Pengikut

Isnin, 16 Februari 2015

Cara makan, berbicara dan Tidur Si Bahlul



Seorang kenalan menulis dalam kirimanya di Group whatsapp mengumpakan   makan, minum dan tidur gaya Syekh Junaid Al-Bagdadi. lantas saya mencari-cari di alam Google ini. mancarikan kisah Bahlul.  Dan seperti sedia maklum masyarakat kita  siapalah yang suka di Gelar Si Bahlul. Taubat lahum mesti ada cempera

Bila mana Si  Bahlul ini berhadapan dengan Syekh Junaid Al-Bagdadi yang lebih masyhur sebagi Sufi Agong yang merata Anak didiknya,.Terdetik kejutan.. rupanya saya kelupaan cerita yang pernah di baca.

marilah kita kongsikan cerita yang saya copy paste dari antara banyak blog yang memutkan cerita seumpamanya.


kredit untuk,

KISAH ISLAMI: Imam Junaid Al-Baghadi

kisahislamikita.blogspot.com/.../imam-junaid-al..

Imam Junaid Al-Baghadi


Junaid bin Muhammad Abu Al-Qosim Al-Khazzaz al-Baghdadi (830-910 M) adalah salah satu tokoh besar bagi Persia, beliau adalah mistikus Muslim, atau ulama sufi beragama Islam dan merupakan pusat tokoh dalam rantai emas banyak sufi. Al-Junaid adalah salah seorang sufi terkemuka di samping seorang ahli fiqih. Dalam fiqih beliau bermadzhab kepada Imam Abu Tsaur. Di kalangan sufi Al-Junaid dikenal sebagai pemuka dan pimpinan mereka dengan gelar Sayyid ath-Thaifah ash-Shûfiyyah.

Awal pendidikan Al-Junaid dimulai dengan belajar ilmu pengetahuan agama pada pamannya sendiri, Sari Al-Saqati, yang juga dikenal sebagai seorang sufi yang sangat luas ilmu pengetahuannya, lalu kepada al-Harits al-Muhasibi, Muhammad ibn al-Qashshab al-Baghdadi, dan sufi terkemuka lainnya. Ketika usianya 20 tahun, Al-Junaid mulai belajar hadits dan fiqh pada Abu Thawr, sorang faqih kondang di Baghdad. Setelah mempelajari hadits dan fiqh, Al-Junaid beralih menekuni tasawuf, sekalipun sebenarnya dia sudah mulai mengenal ajaran tasawuf sejak berumur 7 tahun di bawah bimbingan Sari Al-Saqati. Selain itu Junaid kecil juga belajar sufisme dari siapa saja sehingga pengetahuan sufismenya semakin hari bertambah luas. Ketika dewasa bisa dibilang ilmu Al-Junaid dalam sufisme telah cukup matang.

Al-Junaid adalah seorang sufi yang cerdas, memiliki pikiran cemerlang dan selalu cepat tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya di antara para sufi sangatlah terhormat, bahkan Sari Al-Saqati sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya pada Sari Al-Saqati, “Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tasawuf?” Sari Al-Saqati menjawab, “Tentu saja dapat, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf Al-Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai.”

Pengalaman Syekh Junaid

Syekh Junaid Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Murid-murid mengikutinya.

Syekh bertanya bagaimana kabar bahlul yang gila ?
Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa yang anda perlukan dari dia?”
“bawalah aku ke dia, karena aku ada perlu dengan nya.”

Para murid mencari Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Syekh Junaid kepadanya, ketika Syekh Junaid pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (posisi kepala dibawah)

Syekh Junaid mengucapkan salam
Bahlul menjawab dan bertanya, “Siapakah Anda? ”
”Syekh Junaid menjawab  Saya Junaid Baghdadi.”
Bahlul bertanya, “Apakah Anda Abul Qosim?”
“Syekh junaid menjawab Ya, betul !” jawab Syekh
Bahlul bertanya lagi ” Apakah Anda Syekh Baghdadi yang memberikan orang-orang Petunjuk spiritual? ”
syekh Junaid menjawab “Ya!” 
kemudian Bahlul bertanya ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?”

Syekh junaid menjawab “Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tidak nampak ke gigitan yang lain. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”

Bahlul berdiri, menggerakkan pakaiannya pada Syekh, dan berkata, ” Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia tapi Anda tidak pun mengetahui bagaimana cara makan.” setelah mengucapkannya, dia langsung pergi.

Para Murid Syekh berkata, “O Syekh! Dia orang yang gila. 
”Syekh junaid menjawab, Dia adalah orang gila yang sangat pandai dalam berucap. dengarkan pernyataan yang benar dari nya.
Setelah mengucapkan demikian  Beliau pergi dibelakang Bahlul, dan berkata, ” Saya ada perlu dengan Bahlul.”
Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia duduk. Junaid mendekatinya.
Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?” 

Syekh junaid menjawabSyekh Junaid yang tidak mengetahui bagaimana cara makan.”
”Bahlul berkata Anda tidak mengetahui bagaimana makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana berbicara?
 ”Syekh junaid menjawab “Ya”

” Bahlul berkata Bagaimana anda berbicara ?”
Syekh junaid menjawab” Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Saya tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar dapat mengerti. Saya memanggil semua orang di dunia untuk kembali ke Allah dan RasulNya. Saya tidak berbicara terlalu banyak sehingga semua orang akan bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang umum.
kemudian dia menggambarkan apapun yang berhubungan dengan Adab dan etika

Bahlul berkata, “Lupakan soal makan, Anda pun tidak mengetahui bagaimana berbicara.”
Bahlul berdiri, menggerakkan pakaiannya pada Syekh dan pergi

Para murid berkata, “O Syekh! Anda lihatkan, dia orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila!”
Syekh berkata, ” Saya ada perlu dengan dia. Kalian tidak tahu.”
Sekali lagi Beliau pergi setelah Bahlul sampai Beliau menjumpainya.

Bahlul bertanya, “Apa yang Anda inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?”

Syekh junaid menjawab” Ya, saya tahu.”
” Bagaimana cara tidur?” Bahlul bertanya

Syekh junaid menjawab” Ketika saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.”Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari Orang-orang yang telah belajar agama.

Bahlul kemudian berkata : ” Saya mengerti bahwa Anda pun tidak mengetahui juga bagaimana untuk tidur.”
Bahlul ingin berdiri, tapi Junaid menangkap memegang pakaian nya dan berkata, O Bahlul! Saya tidak mengetahuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT ajari saya.

Bahlul berkata ” Anda mendakwa  berpengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. sekarang Anda mengakui ketiadaan pengetahuan Anda, Saya akan mengajari Anda.”

Bahlul berkata “Tahu apapun yang Anda utarakan itu adalah tidak penting.”
” Kebenaran dibalik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, tapi bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.”

” Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Syekh Junaid.

Bahlul melanjutkan, Hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum Anda mulai bicara. dan pembicaraan Anda haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika itu untuk segala urusan dunia atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang Anda ekspresikan, akan menjadi bencana bagi Anda. Itulah sebabnya diam dan tenang adalah yang terbaik.”

“Apapun yang Anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting. Kebenarannya adalah bahwa hati Anda seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya TIDAK rakus untuk dunia ini atau kekayaannya, dan ingatlah Allah SWT ketika akan tidur.

Syekh Junaid kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk nya.

Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berfikir bahwa Bahlul gila, melupakan tindakannya dan memulai hidup baru.

Imam Abul Qosim Al-Junaid r.a. bercerita :
Sekali peristiwa ketika aku pergi naik haji ke Baitullah Al-Haram, dan juga untuk menziarahi maqam Nabi Saw, sedang aku dalam perjalanan menuju kesana, tiba tiba terdengar oleh telinga ku suatu suara rintihan yang sangat menyayat hati, yang pada anggapan ku tentulah suara itu datangnya dari hati seorang yang remuk redam.
Aku pun mencari cari dari mana datangnya sumber suara itu, dan ternyata bahwa rintihan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sangat kurus, lemah, namun wajahnya bercahaya terang seperti bulan. Saya mendekatinya, ia membuka matanya dan langsung mengucapkan 

..Assalamu’alaikum, ya Abul Qosim!!..
Wa’alaikumussalam! Jawab ku penuh keheranan….Nak, siapakah yang memberitahukan nama ku pada mu, sedangkan kita belum pernah mengenal satu sama lain ? Aku bertanya kepadanya..

Wahai Abul Qosim ! Saya telah mengenali bapak sejak dialam Roh. Dan Allah lah yang memberikan nama bapak kepada ku. Demi Allah, wahai Abul Qosim, kalau aku sudah mati, maka mandikan dan bungkuslah aku dengan baju yang aku pakai ini, dan naiklah ke bukit itu, lalu panggillah orang orang untuk menyalati ku, lalu tanamlah aku ditempat ini pula ! Hanya Allah lah yang akan membalas segala kebaikan bapak.

Berkata Abul Qosim Al-Junaid lagi menyambung ceritanya :
Kemudian aku lihat anak muda tadi penuh berkeringat dahinya sehingga membasahi seluruh wajahnya, suaranya semakin menekan, barang kali, kerana kesakitan….Dalam pada itu ia sempat berpesan lagi, katanya:

Wahai Abul Qosim! Setelah anda selesai menunaikan haji mu, dan sudah mau kembali ke negeri mu, hendaklah anda menuju dulu ke Bagdad, dan tanyakan lah orang orang disana tentang kampung Darb Za’faran. Setelah tiba dikampung itu, tanyakan pula tentang ibu ku dan putra ku serta sampaikanlah salam kepada mereka!…. Baiklah, jawab ku.

Anak muda itu kemudian merintih makin lama makin lemah, dan tak lama sesudah itu pulanglah ia ke rahmatullah dengan tenangnya, sedangkan wajahnya tampak semakin bercahaya. Saya pun memandikannya, kemudian mengafankannya dengan bajunya. Sesudah itu saya naik keatas bukit dan berseru dengan suara keras sekali: wahai orang orang sekalian ! marilah kita bersama sama menyalati mayat asing ini!.

Tiba tiba datanglah beribu ribu orang dari segenap penjuru, seperti ulat layaknya, sedang wajah wajah mereka bagaikan terangnya cahaya bulan purnama. Kami pun turut bersama menyalati mayat itu, kemudian menguburkannya. Setelah selesai penguburan mayat itu, maka dengan serta merta pula, hilanglah ribuan orang orang tadi secara mendadak dan tanpa ada bekasnya. Saya benar benar keheranan atas kejadian itu, juga atas kemuliaan mayat yang tidak saya kenal sebelumnya.

Setelah selesai ibadat haji, saya segera pergi ke Bagdad, dan terus menuju ke kampung Darb Za’faran. setelah menemukannya tampak dilorong lorong kecil kampung itu ada anak anak sedang bermain main. Tiba tiba seorang dari antara mereka memandang tajam kepadaku, seraya mendekati ku dan berkata:

Assalamu’alaikum, ya Abul Qosim! Mungkin kedatangan tuan untuk untuk memberitahu tentang kematian ayah ku, agaknya ?

Hati ku terkejut mendengar pertanyaan anak kecil itu. Ah, alangkah tepatnya apa yang dikatakan, padahal ia masih demikian kecil. Ia kemudian menuntun ku ke sebuah rumah, lalu mengetuk pintunya. Seorang wanita tua membuka pintu, dan alangkah terangnya wajah wanita tua itu, dan alangkah salihah ia tampaknya. Saya mengucapkan salam kepadanya . Ia pun segera membalasnya, lalu menangis terisak isak. kemudian ia bertanya: Wahai Abul Qosim !

Dimanakah tempat kematian anak ku, dan cahaya mataku. Moga moga ia mati di Arafah? Jawabku, tidak!…..apakah di Mina?…… jawabku, tidak!…. di Muzdalifah? …. jawabku tidak…..

Habis dimana? Tanya ibu itu, Di padang pasir, dibawah pohon ghailan? jawab : Ya,
Mendengar berita itu ia menjerit keras seraya berkata: oh anak ku! Oh anak ku! Suaranya bercampur tangisan yang sungguh menyayat hati semua orang yang disitu. Oh! Anak ku ! Oh anak ku! Mengapa tidak disampaikannya ke rumah Nya (Baitullah), atau dibiarkanNya saja ia dengan kami? Ibu itu terus sesak dadanya, dan ketika itulah ia menghembuskan nyawanya meninggalkan dunia yang fana ini, kembali ke rahmatullah, moga moga Allah mencucuri rahmat atas rohnya.

Berkata Al-Junaid seterusnya :
Melihat neneknya telah meninggal dunia, anak kecil itu pun mendekati mayatnya sambil menangis terisak isak. Kemudian menadah tangan kearah langit seraya berdoa:
Ya Allah, ya Tuhan ku Mengapa Engkau tidak ambil aku bersama sama nenek ku ! Ya Allah, lebih baik Engkau ambil aku untuk pergi bersama sama mereka berdua!… Dengan tiba tiba saja sesaklah dada anak kecil itu, dan ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir, moga moga Allah merahmati mereka sekalian.

Saya benar benar tercengang menyaksikan segala peristiwa yang baru berlaku tadi itu, dan saya kira alangkah bahagianya keluarga itu. Saya merawati jenazah itu bersama dengan tetangga mayat itu dangan sempurna dan baik.

Setelah kami menguburkan jenazah jenazah itu, maka dangan hati yang penuh sedih dan hiba, saya meninggalkan kubur kubur mereka!
Syekh Junaid al-Baghdadi adalah peletak dasar bagi mistisisme sadar dalam kontras dengan yang mabuk-Sufi Allah seperti al-Hallaj, Abu yazid Bustami dan Abu sa’id Abu al-khair. Dalam proses persidangan al-Hallaj, mantan murid, Khalifah waktu itu yang diminta fatwa dan ia mengeluarkan ini fatwa : “Dari penampilan luar dia mati dan kita menilai sesuai dengan penampilan luar dan Tuhan yang tahu” lebih baik. Dia disebut oleh para Sufi sebagai Taifa ut-Sayyid yaitu pemimpin kelompok.

Imam Junaid juga seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Sebagai seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana setengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad.

Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahaga ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan menutup kedainya setelah selesai mengajar murid-muridnya. Kemudian beliau balik ke rumah untuk beribadat seperti solat, membaca Al-Qur’an dan berzikir.

Setiap malam beliau berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan kuliahnya. Ramai penduduk Baghdad datang ke masjid untuk mendengar kuliahnya sehingga penuh sesak.

Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Beliau ridha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Beliau tidak pernah berangan-angan untuk mencari kekayaan duniawi dari sumber pekerjaannya sebagai peniaga.
Beliau akan membagi-bagikan sebagian dari keuntungan perniagaannya kepada golongan fakir miskin, peminta dan orang-orang tua yang lemah.

Bertasawuf Ikut Sunnah Rasulullah saw

Imam Junaid seorang yang berpegang kuat kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Beliau senantiasa merujuk kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw dalam setiap pengajiannya.
Beliau pernah berkata:
“Setiap jalan tertutup, kecuali bagi mereka yang senantiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Siapa yang tidak menghafal al-Quran, tidak menulis hadis-hadis, tidak boleh dijadikan ikutan dalam bidang tasawuf ini.”
Imam Junaid mempunyai beberapa kelebihan dan karamah, Antaranya ialah berpengaruh kuat setiap kali menyampaikan kuliahnya. Kehadiran murid-muridnya di masjid, bukan saja terdiri daripada orang-orang biasa malah semua golongan meminatinya.
Masjid-masjid sering dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fiqih, ahli tasawuf, ahli politik dan sebagainya. Namun begitu, beliau tidak pernah angkuh dan bangga diri dengan kelebihan tersebut.

Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik

Setiap insan yang ingin mencapai keridhaan Allah selalunya menerima ujian dan cobaan. Imam Junaid menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan popularitas Imam Junaid.
Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tidak berhasil.
Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junaid. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid agar melakukan perbuatan terkutuk.
Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh sesiapa. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.
Khalifah yang mendapat tahu kematian wanita itu telah memarahi Imam Junaid kerana menganggapnya sebagai suatu perbuatan jenayah.
Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. “Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?” tanya khalifah.
“Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun,” jawab Imam Junaid.
Asy-Syibli, anggota istana yang angkuh, pergi ke Al-Junaid, mencari pengetahuan sejati.Katanya, “Aku dengar bahwa engkau mempunyai karunia pengetahuan. Berikan, atau juallah padaku.”
Al-Junaid berkata, “Aku tidak dapat menjualnya padamu, karena engkau tidak mempunyai harganya. Aku tidak memberikan padamu, karena yang akan kau miliki terlalu murah. Engkau harus membenamkan diri ke dalam air, seperti aku, supaya memperoleh mutiara.”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya asy-Syibli.
“Pergilah dan jadilah penjual belerang.”
Setahun berlalu, al-Junaid berkata padanya, “Engkau maju sebagai pedagang. Sekarang menjadi darwis, jangan jadi apa pun selain mengemis.”
Asy-Syibli menghabiskan satu tahun mengemis di jalanan Baghdad, tanpa keberhasilan.Ia kembali ke Al-Junaid, dan sang Guru berkata kepadanya:
“Bagi umat manusia, kau sekarang ini bukan apa-apa. Biarkan mereka bukan apa-apa bagimu. Dulu engkau adalah gubernur. Kembalilah sekarang ke propinsi itu dan cari setiap orang yang dulu kau tindas. Mintalah maaf pada mereka.” Ia pergi, menemukan mereka semua kecuali seorang, dan mendapatkan pengampunan merdka.
Sekembalinya asy-Syibli, Al-Junaid berkata bahwa ia masih merasa dirinya penting. Ia menjalani tahun berikutnya dengan mengemis. Uang yang diperoleh, setiap senja dibawa ke Guru, dan diberikan kepada orang miskin. Asy-Syibli sendiri tidak mendapat makanan sampai pagi berikutnya.
Ia diterima sebagai murid. Setahun sudah berlalu, menjalani sebagai pelayan bagi murid lain, ia merasa menjadi orang paling rendah dari seluruh makhluk.
Ia menggunakan ilustrasi perbedaan antara kaum Sufi dan orang yang tidak dapat diperbaiki lagi, dengan mengatakan hal-hal yang tidak dapat dipahami masyarakat luas.
Suatu hari, karena bicaranya tidak jelas, ia telah diolok-olok sebagai orang gila di masyarakat, oleh para pengumpat.
Dia berkata:
Bagi pikiranmu, aku gila. Bagi pikiranku, engkau semua bijak. Maka aku berdoa untuk meningkatkan kegilaanku
Dan meningkatkan kebijakanmu ‘Kegilaanku’ dari kekuatan Cinta;
Kebijakanmu dari kekuatan ketidaksadaran.
Syekh Junaid mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak bisa melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia (Allah) tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia (Allah) masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia (Allah) masih menemaniku. Aku tak bisa pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku, aku merasa dimanapun dan kapanpun aku berada disitu selalu ada Dia (Allah). Demikian jawaban dari santri muda tersebut.

Tasawuf Syekh Junaid al-Baghdadi

Al-Junaid barkata, “Tasawuf adalah bersama dengan Tuhan tanpa pertalian dengan apapun.” Melalui definisi ini, sebenarnya Al-Junaid ingin menyatakan bahwa sufisme merupakan cara atau sarana menuju Tuhan dan bersatu dengan kehendak-Nya. Sedangkan pengertian yang demikian ini, dihasilkan dari kesadaran akan adanya suatu jurang yang sangat lebar memisahkan manusia dari Tuhan. Sehingga sufisme, dimaksudkannya untuk menjembatani jurang tersebut.
Dengan perantaraan sufisme, manusia dapat mendekati-Nya, bahkan dapat bersatu di dalam-Nya. Agar dapat mencapai persatuan tersebut, manusia harus mampu memisahkan ruhnya dari semua sifat kemakhlukan yang melekat pada dirinya. Jika hal ini dapat dilaksanakan, niscaya tujuan untuk mendekati Tuhan dan bersatu di dalam-Nya akan tercapai.

Namun demikian, Al-Junaid juga menyatakan bahwa, “Sufisme adalah suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kehidupan manusia.” Dan ketika ditanya apakah sifat itu sifat manusia atau sifat Tuhan? Al-Junaid menjawab, “Esensinya memang merupakan sifat Tuhan, namun gambaran lahiriahnya adalah sifat manusia.” Melalui definisi ini, Al-Junaid ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya dalam diri manusia telah dihiasi dengan sifat Tuhan, sehingga kondisi tertinggi dari pengalaman sufistik yang dicapai seorang sufi berupa persatuannya dengan Tuhan, juga dapat dilukiskan. Pada tingkat ini, seorang sufi akan kehilangan kesadarannya, tidak lagi merasa memiliki hubungan dengan lingkungannya. Bahkan semua yang ada di sekitarnya tidak lagi menjadi obyek pemikirannya, lantaran seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada Tuhan. Sementara dengan hilangnya semua perhatian dan kesadarannya itu, maka dia otomatis sedang berada di tangan Tuhan.

Lebih jauh Al-Junaid menegaskan, bagaimanapun tingginya tingkatan yang telah dicapai, seorang sufi harus tetap meyakini Keesaan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah Rasul.
Dalam ajaran Sufi, delapan sifat harus dilatih. Kaum Sufi memiliki:
1. Kemurahan hati seperti Ibrahim a.s.;
2. Penerimaan yang tak bersisa sedikit pun dari Ismail a.s.;
3. Kesabaran, sebagaimana dimiliki Ya’kub a.s.;
4. Kemampuan berkomunikasi dengan simbolisme, seperti halnya Zakaria a.s.;
5. Pemisahan dari para pendukungnya sendiri, sebagaimana halnya Yahya a.s.;
6. Jubah wool seperti mantel gembala Musa a.s.;
7. Pengembaraan, seperti perjalanan Isa a.s.;
8. Kerendahan-hati, seperti jiwa dari kerendahan hati Muhammad saw.

1. Ajaran Zuhud

Zuhud merupakan dasar dari segala ajaran yang terkandung dalam ajaran sufisme yang diyakini oleh para sufi. Yang merupakan langkah awal dari mereka yang menekuni tasawuf dalam usahanya untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Sehingga siapa saja yang tidak berhasil melalui tahap ini, maka niscaya tidak akan pernah berhasil mencapai hal dan maqam sesudahnya.
Menurut Al-Junaid, “Zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan).” Dengan kata lain, zuhud bagi Al-Junaid lebih merupakan sikap seorang sufi yang tidak begitu terikat dengan duniawi. Namun bukan berarti zuhud itu menjauhi dunia. Bahkan lebih jauh, pengertian zuhud ini melahirkan sikap kedermawanan dan suka bersedekah pada orang yang membutuhkan.
Al-Junaid juga bertutur, “Seorang sufi tidak seharusnya berdiam diri di masjid dan berdzikir saja tanpa bekerja untuk nafkahnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya, orang tersebut menggantungkan dirinya hanya pada pemberian orang lain.” Bagi Al-Junaid, sifat dan sikap seperti itu sengatlah tercela, lantaran sekalipun sufi, orang tersebut harus tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Jika sudah mendapat nafkah diharapkan mau menggunakannya di jalan Allah, yaitu dengan mendermakan sebagian hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan.

2. Ajaran Tawakal

Menurut Al-Junaid, “Hakikat tawakal adalah menjadi milik Tuhan seperti sebelum terjadi.” Pengertian ini berarti bahwa seorang yang bertawakal menjadi seperti ketika belum diciptakan, yaitu sebagai milik Tuhan. Dan lantaran dia kepunyaan-Nya, maka apapun yang akan diperbuat Tuhan terhadapnya, dia akan menerimanya. Junaid juga bertutur, “Bahwasannya kamu harus puas dengan Tuhan dalam segala keadaan, dan kamu tidak mengharapkan sesuatu yang lain kecuali Tuhan.”

3. Ajaran Mahabbah

Junaid bertutur tentang mahabbah, “Mahabbah adalah masuknya sifat-sifat yang Dicintai ke dalam diri yang mencintai, sebagai ganti dari sifat-sifat yang mencintai.” Maksudnya adalah jika seorang sufi telah benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan, maka perhatiannya hanya akan tertuju pada-Nya. Tiada lagi perasaan yang tertuju kepada hal-hal lain yang masih tertinggal pada dirinya. Pada saat yang sama, dia akan menjadikan tempat di segala sudut dalam hatinya, hanya untuk Tuhan.

Namun demikian, semua ini hanya akan terjadi apabila diawali dengan menghilangkan sifat-sifat yang ada pada dirinya sebagai makhluk, dengan meyakini esensi Tuhan yang kekal. Lantaran ketika sifat-sifat kemanusiaannya hilang, pada saat itulah dia akan terhiasi oleh sifat-sifat Tuhan yang dicintai-Nya. Jika sufi tersebut masih merasakan sifat-sifat kemakhlukan pada dirinya, niscaya dia tidak akan dapat menghayati keindahan Tuhan yang dicintainya. Tetapi jika dia tahu bahwa keindahan Tuhan hanya dapat dicapai dengan usaha yang tekun dan pertolongan-Nya, maka ia pasti akan berusaha untuk meraihnya, sekalipun untuk itu, dia harus menghilangkan sifat-sifat dirinya. Sehingga dengan demikian, mahabbah yang sejati pada Tuhan akan terwujud.

4. Ajaran Mushahadah

Mushahadah berarti menyaksikan atau lebih jelasnya, “Melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala.” Hal ini berarti bahwa dalam ajaran sufisme, seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh jadi, hanya bagi mereka, Tuhan itu dapat dilihat. Menurut Al-Junaid, Tuhan hanya dapat dilihat melalui mata hati, bukan dengan mata kepala. Sehingga seandainya Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti, maka Al-Junaid pun tidak ingin melakukannya.

Al-Junaid bertutur, “Apabila Tuhan berkata kepadaku: Lihatlah Aku, aku akan menjawab: Aku tidak dapat melihat Engkau ya Allah. Lantaran dalam cinta, mata adalah sesuatu yang lain selain Tuhan dan makhluk. Kecemburuan pada yang lain akan menjagaku dari melihat-Nya. Selain itu, ketika di dunia aku telah biasa melihat-Nya tanpa perantaraan mata kepala, maka bagaimana aku harus menggunakan perantaraan seperti itu di akhirat nanti.”

5. Ajaran Mithaq

Menurut Al-Junaid, yang dimaksud dengan mithaq adalah perjanjian yang terjadi antara Tuhan dengan ruh, sebelum dia masuk ke dalam tubuh manusia. Dimana akad ini terjadi ketika ruh tersebut diciptakan-Nya pada masa azali.

6. Ajaran Tentang Fana dan Baqa

Kontribusi Junaid terhadap tasawuf banyak, ide dasar berurusan dengan kemajuan yang menyebabkan orang untuk “memurnahkan” diri (fana) sehingga berada dalam serikat lebih dekat dengan Ilahi. Orang perlu “melepaskan keinginan alam, untuk menghapus atribut manusia, untuk membuang motif egois, untuk menumbuhkan kualitas spiritual, untuk mengabdikan diri kepada pengetahuan yang benar, untuk melakukan apa yang terbaik dalam konteks keabadian, keinginan baik untuk seluruh masyarakat, harus benar-benar beriman kepada Allah, dan mengikuti Nabi dalam hal syariat “. Ini dimulai dengan praktek penolakan (zuhud) dan berlanjut dengan penarikan dari masyarakat, konsentrasi intensif pada pengabdian (Ibadat) & mengingati (zikir) Allah, ketulusan (Ikhlas), dan kontemplasi (muraqaba) masing-masing; kontemplasi menghasilkan fana. Jenis “perjuangan semantik” recreates pengalaman persidangan (bala) yang penting dalam tulisan-tulisan Junaid. Hal ini memungkinkan orang untuk masuk ke dalam keadaan fana. Junaid membagi atas keadaan fana menjadi tiga bagian: “

1) yang meninggal dari atribut seseorang melalui upaya terus-menerus menentang ego-diri sendiri (nafs);
2) berlalu dari perasaan seseorang tentang prestasi, yaitu berlalu dari “kita berbagi salah satu padang pasir manis dan kenikmatan ketaatan‘; dan
3) lewat jauh dari visi tentang realitas” dari ekstansi Anda sebagai tanda nyata mengalahkan Anda’ “.

Semua tahapan ini membantu seseorang untuk mencapai fana. Ini adalah melalui tahap baqa yang satu dapat menemukan Tuhan – atau lebih tepatnya, memiliki Allah menemukan dirinya. Menjangkau baqa bukanlah hal yang mudah dilakukan meskipun; mendapatkan melalui tiga tahap membutuhkan disiplin yang ketat dan kesabaran. Bahkan ada perdebatan antara ulama, apakah tahap ketiga dimungkinkan untuk dicapai. Junaid membantu mendirikan “sadar” sekolah pemikiran sufi, yang berarti bahwa dia sangat logis dan ilmiah tentang definisi tentang berbagai kebajikan, Tauhid, dll. Tasawuf dicirikan oleh orang-orang yang Pengalaman fana dan tidak hidup dalam keadaan penyerapan tanpa pamrih pada Tuhan tetapi menemukan diri mereka kembali ke indera mereka oleh Allah. Kembali tersebut dari pengalaman demikian dilarutkan mementingkan diri sebagai diri baru. Sebagai contoh, Junaid mengatakan, “Air mengambil warna dari cawan itu.” Meskipun ini mungkin tampak agak membingungkan pada awalnya, ‘Abd al-Hakeem Carney menjelaskan lebih baik: kita dituntun menuju konsep penting dari ‘kapasitas,’ dimana penampakan Ilahi diterima oleh hati setiap orang menurut orang itu tertentu menerima kapasitas dan akan ‘berwarna’ oleh alam seseorang “. Seperti yang dapat dilihat, seperti ungkapan yang sederhana memiliki arti yang mendalam seperti; ia membawa pembaca kembali ke pemahaman yang lebih dalam Tuhan melalui metafora yang lebih bijaksana.

Fana dan baqa ini merupakan sesuatu yang kembar dan datang bersamaan, sehingga jika seseorang mengalami fana (kesadaran diri hilang dan lenyap), maka bersamaan dengan itu muncul baqa (munculnya kesadaran akan kehadirannya di sisi Tuhan). Diri pribadi dengan segala sifatnya yang menyukai kesenangan dan keinginan duniawi, merupakan tabir penghalang bagi seorang sufi untuk mencapai persatuan dengan Tuhan. Sehingga semua penghambat tersebut, harus terlebih dahulu dihapuskan agar dapat mencapai puncak tertinggi dari sufisme. Atau dengan kata lain, untuk mencapai persatuan dalam Tuhan, maka semua sifat kemakhlukan yang ada pada diri manusia dan semua perasaan terhadap selain Tuhan, harus dihilangkan terlebih dahulu. Sehingga ketika hati benar-benar telah bersih dan siap ditempati Tuhan, maka inilah yang dimaksud dengan fana, yakni hilangnya kesadaran atas diri pribadi.

7. Ajaran Tauhid

Menurut Al-Junaid, tauhid adalah, “Pengesaan yang qidam (kekal) dari yang hadath (baru atau diciptakan).” Dengan pengertian ini, Al-Junaid ingin menegaskan bahwa tauhid merupakan pengesaan Tuhan yang kekal (qidam) dari makhluk ciptaan-Nya yang baru (hadith). Pengesaan ini berarti pemisahan Tuhan dari segala makhluk-Nya, termasuk di dalamnya pemisahan dari manusia.

8. Ajaran Makrifat

Menurut Al-Junaid, marifat adalah kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan tentang Tuhan datang. Melalui definisi ini, dia ingin menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Tuhan. Dimana keadaan yang demikian ini, baru disadarinya ketika datang makrifat kepadanya. Pada saat itu, dia akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.

Makrifat atau pengetahuan tentang Tuhan, akan dapat dicapai oleh seorang sufi, dalam keadaan fana tertinggi. Dimana pada saat itu, segala sifat kemanusiaan yang ada dalam dirinya hilang seketika. Semua keinginannya pada benda-benda duniawi terhapus. Kesadaran akan dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatannya pada Tuhan. Sedangkan yang masih tinggal pada dirinya hanyalah perasaan akan bersatunya ruh dirinya dalam Tuhan. Dan pada titik itulah sesungguhnya makrifat ini muncul menguasai dirinya. Di mana Tuhan dengan segala rahmat-Nya telah berkenan menganugerahkan makrifat itu kepadanya.
Makrifat menurut Al-Junaid merupakan milik Tuhan, yang hanya didapatkan melalui Dia dan akan ada bersama dengan-Nya sendiri.

9. Sahw (Kembali Pada Kesadaran)

Dalam sufisme, istilah sahw adalah kembalinya seorang arif (sufi) pada kesadarannya, setelah sebelumnya mengalami ghaybah (fana) dan kehilangan kesadarannya. Al-Junaid menjelaskan masalah sahw ini sebagai berikut, “Tuhan mengembalikan sufi kepada keadaannya semula, adalah agar dia dapat menjelaskan bukti-bukti dari rahmat Tuhan kepadanya. Sehingga cahaya anugerah-Nya akan tampak gemerlap melalui pengembalian pada sifat-sifatnya sebagai manusia. Dengan demikian hal ini menjadikan masyarakat menghargai dan tertarik kepadanya.”
Sahw ini merupakan tahap terakhir setelah seorang sufi mengalami fana dan baqa. Pada kondisi inilah ujian sebenarnya bahwa seorang sufi harus mampu kembali kepada kesadarannya dengan hati yang telah disucikan oleh Allah. Para sufi ini harus mampu menyucikan hatinya secara terus-menerus dalam kesadaran manusia sehingga dia benar-benar menjadi yang mencintai dan dicintai Allah.

Junaid percaya bahwa Sufisme adalah jalan bagi elit untuk mencapai Allah, bukan orang biasa. “Tasawuf,” katanya, “adalah untuk membersihkan jantung dari setiap keinginan mengikuti jalan orang-orang umum”.

Abu Ali ar-Raudzabari berkata: “Saya mendengar Al-Junaid berkata kepada orang yang mengatakan bahwa ahli ma’rifat dapat sampai kepada suatu keadaan yang tidak lagi baginya untuk berbuat apapun, –Artinya menurutnya orang tersebut boleh meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang telah diwajibkan, Al-Junaid berkata kepadanya: “Ini adalah perkataan kaum yang berpendapat segala perbuatan-perbuatan akan gugur. Dan ini bagiku adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Seorang pelaku zina dan seorang yang mencuri jauh lebih baik dari pada orang memiliki pendapat seperti itu. Sesungguhnya, orang-orang yang ‘Ârif Billâh adalah mereka yang mengerjakan seluruh pekerjaan sesuai perintah Allah, karena hanya kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan itu kembali. Andaikan aku hidup dengan umur 1000 tahun, dan aku tidak meninggalkan kebaikan sedikitpun selama umur tersebut, maka kebaikan itu tidak akan dianggap oleh Allah kecuali bila sesuai dengan apa yang telah diperintahkannya. Inilah keyakinan yang terus memperkuat ma’rifat-ku dan memperkokoh keadaanku”.

Sejak kecil, Al-Junaid terkenal sebagai seorang anak yang cerdas, sehingga sangat mudah dan cepat belajar ilmu-ilmu agama dari pamannya. Karena kecerdasannya itu, ketika berumur tujuh tahun, Al-Junaid telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan tentang makna syukur. Kehidupan Al-Junaid al-Baghdâdî, di samping sebagai seorang sufi yang senantiasa mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, ia juga sebagai pedagang barang-barang pecah belah di pasar tradisional. Selesai berdagang, beliau pulang ke rumah dan mampu mengerjakan salat dalam waktu sehari semalam sebanyak empat ratus rakaat.

Al-Junaid al-Baghdâdî adalah seorang sufi yang mempunyai prinsip tak kenal putus asa. Terbukti, misalnya dalam ibadah, baik di kala sehat maupun sakit, ia senantiasa konsisten melaksanakannya; bahkan, dalam keadaan sakit, ia merasa semakin dekat dengan Allah. Di samping itu, Al-Junaid memiliki sifat tegas dalam pendirian. Ini terlihat ketika ia menandatangani surat kuasa untuk menghukum mati muridnya sendiri, Husain ibn Mansur Al-Hallaj     (w. 309/ 922 M), sufi pencetus al-hulûl. Dalam surat kuasa itu, ia menulis dengan tegas, “Berdasarkan syari’at, ia (al-Hallaj) bersalah, tetapi menururt hakikat, Allah Yang Maha Mengetahui”.

Dalam masa-masa hidupnya, Al-Junaid menghadapi kendala dalam mengajarkan tasawufnya, terutama dari kaum ortodok. Karena perlawanan mereka terhadap para sufi yang terjadi ketika itu, maka Al-Junaid melakukan praktik-praktik spiritual dan mengajari murid-muridnya di balik pintu terkunci. Dari surat-suratnya atau risalah-risalah singkatnya dan keterangan dari para sufi serta penulis biografi sufi sesudahnya, dapat dipandang bahwa jalan hidup Al-Junaid merupakan perjuangan yang permanen untuk kembali ke “Sumber” segala sesuatu, yakni Tuhan. 

Bagi Al-Junaid, cinta spiritual (mahabbah) berarti bahwa, “Sifat-sifat Yang Dicintai menggantikan sifat-sifat si pencinta”. Al-Junaid memusatkan semua yang ada dalam pikirannya, semua kecenderungannya, kekagumannya, dan semua harapan dan ketakutannya, hanya kepada Allah SWT. Untuk itulah, dengan paham-paham ketasawufannya, ia sering dipandang sebagai seorang syekh sufi yang kharismatik di kota Bahgdad. Banyak tarekat sufi yang silsilahnya melalui Al-Junaid. Paham dan amalan tasawuf Al-Junaid ini banyak digali dari pengalaman-pengalaman ketasawufannya; namun demikian, konsep-konsep pemikiran tasawufnya masih belum tersusun secara sistematis, tetapi lebih banyak dijelaskan lewat ungkapan-ungkapan verbalnya.

Dari ungkapan-ungkapan itulah bisa dipahami konsep tasawufnya. Misalnya, ketika ia menjelaskan tentang tasawuf yang dijalaninya, ternyata ia peroleh dari pengalaman kezuhudan dan kesederhanaannya terhadap dunia. Dalam hal ini, Sai’id Hawwa pernah mengutip pernyataan Al-Junaid, yang mengungkapkan, “Kami tidak mengambil tasawuf dari pembicaraan atau kata-kata, melainkan dari lapar dan keterlepasan dari dunia ini, dan dengan meninggalkan hal-hal yang sudah biasa dan kami senangi”. Sikap hidup fakir dan keterlepasan dari kemewahan dunia menjadi penting dalam kehidupan sufistik menurut pandangan Al-Junaid . 

Al-Junaid memandang tasawuf sebagai jalan kearifan manusia dalam menjalankan hidupnya. Dalam hal ini ia pernah ditanya tentang orang yang disebut ârif (sufi) sebagai berikut, “Siapakah orang ârif (sufi) itu?” Ia menjawab, orang ârif adalah orang yang tidak terikat oleh waktu.” Kehidupan tasawuf yang dilakukan seseorang merupakan jalan penyucian hati dan jalan kekhusyukan untuk mengingat Dia. Perkataan Al-Junaid yang berhubungan dengan hal ini adalah: “Tuhan menyucikan “hati” seseorang menurut kadar khusyuknya dalam mengingat dia. Al-Junaid mengatakan :”Sabar itu meneguk kepahitan tanpa cemberut muka.” Selain itu, Al-Junaid al-Baghdâdî juga mempunyai pemikiran tentang bast (rasa lapang) dan qabd (rasa kecut). Bast yang dimaksud adalah istilah tasawuf yang berarti suasana kelapangan jiwa melalui harapan atau kegembiraan rohani akan datangnya rahmat Allah. Di kalangan para sufi, bast dan qabd merupakan kelanjutan dari raja’ (harap) dan khauf (takut), yang keduanya merupakan cara untuk meminta perlindungan dari Tuhan. Untuk melihat bagaimana bast dan qabd sebagai kelanjutan dari raja’ dan khauf ini, dapat disimak ungkapan yang dikemukakan Al-Junaid sebagai berikut: “Takut (khauf) kepada Allah membuatku menjadi qabd, dan harap (raja’) kepada-Nya membuatku manjadi bast. Dengan al-haqiqah (hakikat) Dia mempersatukanku dengan eksistensi kemanusiaanku. Jika Dia membuatku qabd dan khauf, Dia menghancurkan eksistensi kemanusiaanku. 
Apabila Dia membuatku bast dan raja’, Dia mengembalikan eksistensi kemanusiaanku. Jika Dia mengumpulkanku dengan al-haqiqah, Dia menghadirkanku. Jika Dia memisahkanku dengan Al-Haqq (Tuhan), Dia menyaksikanku dalam eksistensi yang lain. Maka ketika itu aku dalam kedaan gelap gulita, dan menjadi tidak sadarkan diri. Ketika itu Dialah yang Yang Maha Tinggi yang menggerakkanku tanpa mendiamkanku dan Dia yang membuatku takut dan cemas tanpa membuatku merasakan adanya belaian kasih. Ketika eksistensi kemanusiaanku hadir, aku merasakan keberadaanku. Dan ketika eksistensi kemanusiaanku lepas, aku merasa hancur tidak sadarkan diri.” Al-Junaid al-Baghdâdî yang terkenal dengan julukan sayyid at-ta’ifah (sesepuh kaum sufi), menjelaskan bahwa cinta murni itu tercapai setelah adanya proses transformasi sifat-sifat yang dicintai pada diri pencinta secara total.
Dari kutipan-kutipan di atas, maka jelas sekali tasawuf Al-Junaid berlandaskan Al-Qur’an dan hadits. Ia menjauhi praktek yang bertentangan dengan syariat Islam. Adapun dasar-dasar pemikiran Al-Junaid tentang tasawuf adalah sebagai berikut:

1. Seorang sufi harus meninggalkan kelakuan dan sifat-sifat yang buruk dan menjalankan budi pekerti yang baik, sesuai dengan ajaran-ajaran tasawuf yang selalu mengajarkan sifat-sifat baik dan meninggalkan bidi pekerti yang jelek.

2. Ajaran tasawuf adalah ajaran-ajaran yang dapat memurnikan hati manusia dan mengajarkan sifat-sifat baik dan meninggalkan sifat-sifat alamiah yang bisa merusak kesucian jiwa, menahan manusia dari godaan jasmani, mangambil sifat-sifat ruhani, mengingatkan diri pada ilmu hakikat, mengingat Allah SWT. dan rasul-Nya, Muhammad SAW.

3. Memalingkan perhatian dari urusan duniawi kepada urusan ukhrawi. Bagi orang beriman, meninggalkan pergaulan dengan sesama (manusia) masih mudah dan berpaling kepada Allah sulit. Ternyata berpaling dari nafsu lebih sulit lagi. Untuk itu, melawan nafsu adalah sangat penting untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, al-Hujwiri mengutip bahwa Al-Junaid pernah ditanya, “apakah persatuan dengan Tuhan?” dia menjawab, “meniadakan hawa nafsu,” karena di antara semua tindakan ibadah yang diridhai Tuhan, tiada yang lebih besar nilainya dari pada menundukkan hawa nafsu. Menghancurkan gunung lebih mudah bagi seorang manusia dari pada menundukkan hawa nafsunya.”

4. Manusia harus berpegang teguh kepada tauhid, termasuk dalam bertasawuf. Arti tauhid, menurut Al-Junaid, adalah mengesakan Allah SWT. dengan sesempurna-Nya. Bahwa sesungguhnya Allah itu esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak berjumlah dan tidak pula tersusun, dan tak satupun yang menyerupai-Nya, Dia Maha Mendengar, Dia Maha Melihat dan Maha Tunggal, dan seterusnya.

5. orang sufi harus bisa melakukan tiga syarat amalan, yaitu:
(a) melazimkan dzikr secara kontinu yang disertai himmah dan dengan kesadaran yang penuh;
(b) mempertahankan tingkat kegairahan atau semangat yang tinggi;
(c) senantiasa melaksanakan syari’at yang ketat dan tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab itu, dalam soal berpegang teguh pada syari’at, maka Al-Junaid seperti dikutip Sa’id Hawwa, pernah menuduh orang yang menjadikan wusul (mencapai) Allah sebagai tindakan untuk melepaskan diri dari hukum-hukum syari’ah. Dalam persoala ini dengan tegas ia menyatakan, “Betul mereka sampai, tetapi ke neraka Saqar.” Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab fiqih pernah berkata, “Barang siapa mendalami fiqih tanpa bertasawuf ia fasik, barang siapa yang mendalami tasawuf tanpa mendalami fiqih ia zindiq, dan barang siapa yang melakukan keduanya ia ber-tahaqquq (meraih kebenaran).”
Jadi, tasawuf merupakan hal yang mesti, dapat dijadikan sebagai penyempurna fiqih. Begitu juga fiqih, dapat menjadi koridor tasawuf dan kaidah pengendali amal dalam mengarah kepada-Nya. Jika salah satu dari dua disiplin ilmu tersebut hilang, itu berarti separuh telah tiada.
Dikatakan bahwa para sufi pada masanya, al-junaid adalah seorang sufi yang mempunyai wawasan luas terhadap ajaran tasawuf, mampu membahas secara mendalam, khusus tentang paham tauhid dan fana`. Karena itulah dia digelari Imam Kuam Sufi (Syaikh al-Ta`ifah); sementara al-Qusayiri di dalam kitabnya al-Risaalah al-Qusyairiyyah menyebutnya Tokoh dan Imam kaum Sufi.
Al-Junaid juga menandaskan bahwa tasawuf berarti “Allah akan menyebabkan mati dari dirimu sendiri dan hidup di dalam-Nya.” Peniadaan diri ini oleh Junaid disebutfana`, sebuah istilah yang mengingatkan kepada ungkapan Qur`ani “segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (QA. 55:26-27); dan hidup dalam sebutannya baqa`. Al-Junaid menganggap bahwa tasawuf merupakan penyucian dan perjuangan kejiwaan yang tidak ada habis-habisnya. Disamping al-Junaid menguraikan paham tauhid dengan karakteristik para sufi, dia juga mengemukakan ajaran-ajaran tasawuf lainnya.

Junaid Al-Baghdadi: Simbol Keharmonisan Tasawuf dan Syariat


Rubrik Hujjatul Tak hanya tasawuf, ia juga menguasai sejumlah bidang ilmu pengetahuan.Ajaran Islam tak hanya berbicara masalah fikih, ibadah, dan akhlak. Di dalamnya, juga dibahas tentang masalah tasawuf, yakni pendekatan diri kepada Allah melalui pemahaman yang lebih mendalam dengan hati. Istilah tasawuf ini sebenarnya sudah berkembang sejak masa Rasulullah SAW di Madinah. Dulu di Masjid Nabawi terdapat sekelompok orang yang disebut dengan ahlus suffah . Karena itu, ada yang menyebutkan bahwa tasawuf memiliki akar kata dari  suffah . Namun menurut lainnya, tasawuf berasal dari kata  shafa atau  shufi yang berarti suci atau bersih. Dalam perkembangannya, praktik-praktik tasawuf baru meledak pada abad ketiga Hijriyah. Menurut Dr Abu Al Wafa At Taftazani dalam bukunya  Madkhal Ila At Tasawwuf al Islami, abad ketiga Hijriyah merupakan titik tolak dan sejarah penting bagi perkembangan tasawuf Islam. Al-Qusyairi dan Ibnu Khaldun menjelaskan, kata tasawuf sudah pernah digunakan sebelum abad kedua Hijriyah, tetapi pada abad ketigalah istilah tasawuf mulai dipergunakan secara luas. Pendapat Abu Al Wafa cukup berasalan. Sebab saat itulah tasawuf yang semula sebatas dipahami sebagai implementasi terhadap makna zuhud, mulai bergeser menjadi sebuah paradigma, gerakan, dan olah rasa di kalangan para pegiatnya. Meski masih ditafsirkan secara sederhana, pada periode ketiga Hijriyah muncul teori-teori sufi, seperti hulul, fana, dan tauhid. Selain itu, sejumlah tarekat sufi juga mulai menjamur. Ada Tarekat Al-Qashariyah, At-Thaifuriyyah, Al-Kharraziyah, An-Nuriiyah, dan Al-Hallajiyyah. Salah satu tokoh yang mempunyai andil besar dalam proses transformasi tasawuf pada abad ketiga adalah Imam Junaid.
Benturan pandangan para pengikut tasawwuf dan ahli fikih pada abad ketiga ini merisaukan Al Junaid. Mengapa harus dipertentangkan. Bukankah ajaran tasawwuf itu bersumber dari ajaran nabi. Begitu pula dengan fikih. Maka hendaknya kedua cara pandang yang cenderung hakikat-centris dan yang cenderung legalit-centris, dikompromikan. Dalam hal ini, Al Junaid mengatakan,
علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة من لم يقرأ القرآن ويكتب الحديث لا يقتدى به في علمنا هذا

“ilmu (tasawwuf) kami ini dilandasi oleh Al Quran dan As Sunnah, barang siapa tidak membaca Al Quran dan menulis As Sunnah, maka ucapannya tidak dapat diikuti dalam ilmu kami ini”
Frase Ilmuna merujuk pada pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan melalui perjalanan spiritual. Pengetahuan yang kadang sulit dijelaskan oleh nalar manusiawi. Sehingga kadangkala dampak dari ilmu tersebut terbilang aneh bagi orang biasa. Semua merujuk pada tingkat ekstasie tertentu pada diri sufi yang tidak dapat dijelaskan secara nalar. Namun hal itu memang benar mereka rasakan. Mereka seperti masuk pada ruang tanpa batas. Pengetahuan tentang yang supra-gaib. Sehingga muncul sikap radikal dan liberal dalam pemikiran tasawwuf. Radikalisme dan liberalisme tasawwuf dapat kita amati dalam fenomena ittihad dan hulul. Keduanya memiliki kesamaan dalam menafikan realitas konkret manusia.
Keliaran pemikiran semacam ini dalam pandangan Al Junaid, tidaklah benar. Baginya, dunia tasawwuf harus tetap berpijak pada realitas konkret manusia. Pencapaian tertinggi dalam dunia tasawwuf hanyalah sampai level mahabbah dan ma’rifah. Dengan demikian eksistensi konkret hamba (ubudiah) tetap terpisah dari eksistensi tuhan (uluhiah).
Menurut Al Junaid, syariat tetaplah penting dalam menuju mahabbah dan ma’rifah. Dari sini, gagasan Al Junaid kemudian sangat kompatibel dengan pemikiran ahli fikih dan hadis. Dan inilah makna ucapan “dilandasi Al Kitab dan As Sunnah”.
Imam Junaid atau yang mempunyai julukan Abul Qosim ini adalah orang pertama yang menyusun dan membahasakan tasawuf, hingga tak jarang kitab-kitab tasawuf yang merujuk kepada ijtihad Imam Junaid. Dan beliau pulalah yang merangkum pertama kali kata-kata bijak Imam Abu Yazid al-Busthomi yang tidak lain adalah guru beliau sendiri.
Al-Junaid di kenal dalam sejarah tasawuf sebagai seorang sufi yang banyak membahas tentang tauhid. Pendapat-pendapatnya dalam masalah ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab biografi para sufi, antara lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-Qusyairi: Suatu ketika al-Junaid ditanya tentang pengertian tauhid. Dia menjawab: “Orang-orang yang mengesakan Allah (al-muwahhid) ialah mereka yang merealisasikan keesaan-Nya dalam arti sempurna, meyakini bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan, menafikan segala bentuk politeistik. Dia tidak bisa diserupakan, diuraikan, digambarkan dan dibuat contoh-Nya. Dia tanpa padanan dan Dia adalah zat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”
Pengertian tauhid yang diberikan al-Junaid di atas tidak keluar dari pengertian yang diberikan oleh para teolog, sekalipun dia menguraikannya dari sudut pandang para sufi. Menurutnya, akal-budi tidak mampu memahami itu. Sebab, “seandainya pemikiran para pemikir dicurahkan sedalam-dalamnya pada masalah tauhid, pikiran itu akan berakhir dengan kebingungan.” Dan katanya pula: “Ungkapan terbaik tentang tauhid adalah ucapan Abu Bakr al-Siddiq: Maha Suci Zat yang tidak menjadikan jalan bagi makhluk-Nya untuk mengenal-Nya, melainkan ketidakmampuan mengenal-Nya.”[6]
Pengertian tauhid, sebagaimana diberikan al-Junaid, bahwa ia mengandung unsur utama “pemisahan yang baqa’ dan fana’. Dengan menjadikan perjanjian azali sebagai titik tolak, seraya merujuk kepada al-Qur’an (QS. Al-‘An’am:164-168) menurut tafsiran sufi, ia memandang seluruh rangkaian sejarah ini sebagai upaya manusia dalam memenuhi perjanjian itu dan kembali ke ihwal asalnya. Dalam sebuah tafsir tentang percakapan yang konon berlangsung antara manusia dan Tuhan dahulu kala, al-Junaid menulis: “Dalam ayat ini Allah menerangkan kepadamu bahwa Dia berbicara kepada mereka pada zaman tatkala mereka (anak-cucu Adam) belum maujud, tapi sudah maujud dalam diri-Nya. Kemaujudan ini bukanlah kemaujudan yang lazim dari ciptaan-ciptaan-Nya. Namun kemaujudan ini merupakan suatu kemaujudan yang hanya diketahui oleh Allah.
Tauhid yang hakiki menurut al-Junaid adalah buah dari fana’ terhadap semua yang selain Allah. Dalam hal ini dia mengatakan: “Tauhid yang secara khusus dianut para sufi adalah pemisahan yang qidam dari yang hudus. Ketika menjelaskan sebuah hadis: “Manakala Aku mencintainya, maka aku menjadikannya mampu mencapai hal ini. Dialah yang menuntunnya dan mengaruniakan kepadanya hakikat dan kebenaran. Dengan demikian, ia adalah perbuatan Allah lewat dirinya.
Tauhid yang begini, menurut al-Junaid, adalah tauhid bagi kelompok tertentu. Misalnya al-Tusi dalam kitabnya Al-Luma’, menuturkan: “Suatu ketika al-Junaid ditanya tentang tauhid bagi kelompok tertentu (kaum khawas), jawabnya: Hendaklah seseorang menjadi pribadi yang berada di tangan Allah di mana segala kehendak-Nya berlaku bagi dirinya. Dan ini tidak bisa tercapai kecuali dengan membuat dirinya fana’ terhadap dirinya dan makhluk sekitarnya. Dengan sirnanya perasaan dan kesadarannya maka seluruhnya berlaku kehendak Allah SWT.
Al-Junaid memahami sepenuhnya bahwa pengalaman sufistik tidak bisa diuraikan dengan akal dan berbahaya untuk dibicarakan secara terbuka mengenai rahasia terdalam dari iman dihadapan orang-orang awam (terutama sekali terhadap orang-orang yang memandang kegiatan para sufi dengan kecurigaan). Berdasarkan alasan inilah ia menolak al-Hallaj yang telah menjadi contoh mereka yang telah menjalani hukuman karena telah berbicara secara terbuka tentang rahasia cinta dan penyatuan. Oleh karenanya, al-Junaid memperhalus seni bicara melalui isyarat suatu kecenderungan yang mula-mula diprakarsai oleh al-Kharraz. Surat-surat dan risalah-risalahnya ditulis dengan gaya samar-samar; bahasanya begitu padat sehingga sangat sulit dipahami oleh mereka yang tidak terbiasa dengan cara khas pengungkapan sufistik. Bahasa yang indah itu lebih menutupi daripada membukakan makna sebenarnya.

 

Tasawuf dalam Pandangan Al Junaid
Dasar-dasar Tasawuf
“Kitab ini yaitu Al-Qur’an adalah kitab paling mulia dan paling lengkap. Syariah
kita adalah aturan hidup yang paling jelas dan paling rinci.
Tareqat kita, yakni jalan ahli tasawuf, dikuatkan dengan kitab dan sunnah.
Maka barang siapa belum mendalami al-Qur’an, memelihara Sunnah dan
memahami makna-maknanya tidak boleh di ikuti.”
Ia juga berkata kepada sahabat-sabahatnya :
“Seandainya kamu melihat seseorang terbang di udara maka janganlah kamu
meyakininya hingga melihat perbuatannya berkaitan dengan perintah dan
larangan Allah.
Jika kamu melihat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan
larangan-larangan-Nya, maka kamu boleh mempercayai dan mengikutinya.
Tetapi jika kamu melihat ia melanggar perintah dan larangan itu maka jauhilah
dia.”

Lingkungan Agung Para Sufi

“Manakala Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, Dia akan
membawanya ke lingkungan para Sufi dan menjauhkannya dari kaum ulama
pembaca buku.” Dikatakan kepada Abdullah bin Sa’id bin Kilab, “Anda berbicara
pandangan masing-masing ulama. Lalu di sana ada seorang tokoh yang
dipanggil dengan nama al-Junaid. Lihatlah, apakah Anda kontra atau tidak?”
Abdullah lalu menghadiri majlis al-Junaid.
Ia bertanya kepada al-Junaid tentang tauhid, lalu Junaid menjawabnya. Namun
Abdullah kebingungan. Lantas kembali bertanya kepada al-Junaid, “Tolong Anda ulang ucapan tadi bagiku!” Al-Junaid mengulangi, namun dengan ungkapan yang lain. Abdullah lalu berkata, “Wah, ini lain lagi, aku tidak mampu menghafalnya. Tolonglah Anda ulangi sekali lagi!” Lantas al-Junaid pun
mengulanginya, tetapi dengan ungkapan yang lain lagi. Abdullah berkata, “Tidak
mungkin bagiku memahami apa yang Anda ucapkan. Tolonglah Anda uraikan
untuk kami!” Al-Junaid menjawab, “Kalau Anda memperkenankannya, aku akan
menguraikannya.”
Lalu Abdullah berdiri, dan berkata akan keutamaan al-Junaid serta keunggulan
moralnya.
“Apabila prinsip-prinsip kaum Sufi merupakan prinsip paling sahih, dan para
syekhnya merupakan tokoh besar manusia, ulamanya adalah yang paling alim
di antara manusia.
Bagi para murid yang tunduk kepadanya, bila sang murid itu termasuk ahli
penempuh dan penahap tujuan mereka, maka para syekh inilah yang menjaga
apa yang teristimewa, berupa terbukanya kegaiban.
Karenanya, tidak dibutuhkan lagi bergaul (terkait) dengan orang yang ada di luar
golongan ini.
Bila ingin mengikuti jalan Sunnah, sementara dirinya tidak bersaing untuk
mahir dalam hujjah, lalu ingin mencapai peringkat bertaklid agar bisa sampai
pada kebenaran, hendaknya ia bertaklid kepada ulama salafnya. Dan hendaknya
bersama jalan generasi Sufi ini, sebab, mereka lebih utama dari yang lain.”

Tasawuf, Ilmu Paling Mulia

Al-Junaid berkata, “Jika Anda mengetahui bahwa Allah swt. memiliki ilmu di
bawah atap langit ini yang lebih mulia daripada ilmu tasawuf, dimana kita
berbicara di dalamnya dengan sahabat-sahabat dan teman kita, tentu aku akan
berjalan dan menuju ilmu tadi.”
Makna Hakikat Terdalam
“Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu
dengan-Nya.” Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt.
tanpa keterikatan apa pun.”
“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.” Dia berkata pula, “Para Sufi adalah
anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain
mereka.” Selanjutnya dia juga menjelaskan lagi, “Tasawuf adalah dzikir bersama, penyampain yang disertai bimbingan, dan tindakan yang didasari Sunnah.”

Metafor Kaum Sufi

“Kaum Sufi adalah seperti bumi, selalu semua kotoran dicampakkan kepadanya,
namun tidak menumbuhkan kecuali segala tumbuhan yang baik.” Dia juga
mengatakan, “Seorang Sufi adalah bagaikan bumi, yang di injak orang saleh
maupun munafiq; juga seperti mendung, memayungi segala yang ada; seperti
air hujan, mengairi segala sesuatu.”
Dia melanjutkan, “jika engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian kepada
penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya rusak.”

Meninggal Dunia

Akhirnya kekasih Allah itu telah menyahut panggilan Ilahi pada 297 Hijrah. Imam Junaid telah wafat di sisi Abu Bakar As-Syibli, seorang daripada muridnya.
Ketika sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid, tiba-tiba Imam Junaid membuka matanya dan berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata.

PENGHURAIAN MISTERI ALAM MELAYU

PENGHURAIAN MISTERI ALAM MELAYU

kredit untuk

penghuraian misteri alam melayu - akademi silat seni ...

syeikhthanauddin.blogspot.com/.../penghuraian-misteri-alam-melayu.ht.

Nota: Segala tulisan di bawah adalah hasil rujukan dan ilmu pengarang Hj. Ahmad b. Hj. Che Din dan tidak ada kena-mengena dengan saya. Ianya dimuatkan di sini sebagai tatapan umum untuk menambahkan ilmu pengetahuan, beroleh penjelasan tentang kemusykilan mengenai makhluk Jin di mukabumi dan menjawab persoalan kita mengenai makhluk halus. Tiada perubahan dilakukan daripada teks asalnya kecuali perenggan-perenggan tulisan untuk disesuaikan ke dalam blog ini.

PERUTUSAN

Segala puji-puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tuhan yang Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Sesungguhnya Dialah yang menguasai sekian makhluknya daripada Jin, Malaikat dan manusia serta lain-lain lagi, dan Dia jugalah yang berkuasa ke atas sekian mereka itu. Dialah yang mengatur dan mentakbir alam ini dan Dialah yang Maha Pelulus dan Maha Penentu atas sekelian mahluknya.

Selawat dan salam ke atas junjungan Nabi dan Mursalin Nabi Muhammad s.a.w, ahli-ahli bait serta para sahabat baginda serta pengikut sahabat dan ulama-ulama yang menegakkan agama Allah s.a.w serta yang berhubung dengan mereka itu sehingga kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Sidang pembaca yang dirahmati;

Alhamdulillah, syukur kepada Allah s.w.t kerana dengan limpah kurniaNya dapat disiapkan sebuah tulisan yang serba kekurangan ini bagi tatapan sidang pembaca yang ingin mencari pengalaman baru dan di harap dapat menjadi pengetahuan yang berguna berhubung dengan Perubatan Tradisional Melayu, Adat Resam masyarakat Melayu Islam, Latihan pertahanan diri Melayu, perkara-perkara Khurafat dan ajaran-ajaran sesat.

Tulisan ini di susun semula hasil dari pengalaman penulis sendiri dan beberapa orang sahabat yang terlibat secara langsung dengan ahli masyarakat yang malang dan memerlukan pertolongan, juga ilmu dari guru-guru yang alim dan dari rujukan kitab-kitab.

Tujuan tulisan ini diperkenalkan supaya ahli masyarakat Melayu Islam tidak terkeliru di antara adat dan agama supaya jangan nanti ada yang mengatakan adat yang bercanggah dengan Islam itu adalah salah satu daripada tradisi agama Islam. Orang-orang Melayu yang sebahagian besarnya banyak yang terkeliru di antara adat dan agama ; antara karamah dengan Istidraj; antara mau’nah dengan sihir atau silap mata. Sehingga kini ramai yang mudah terpengaruh dengan perkara-perkara pelik umpamanya " Bomoh Budak " di Baling sehingga berpusu-pusu mereka pergi untuk mendapatkan rawatan tanpa menyelidiki terlebih dahulu.

Adalah diharapkan setelah membaca tulisan ini anda akan dapat membeza dan menilai kesesatan yang berlaku dalam perbomohan, adat-resam dan latihan pertahanan diri Melayu meskipun faktanya masih banyak yang kekurangan.

Sebarang kesilapan atau kekurangan fakta adalah disebabkan oleh kelemahan diri penulis sendiri samada dari sudut keilmuan maupun dari pengalaman.

Wallahu’alam.
Hj. Ahmad b. Hj. Che Din Kuala Kangsar, Perak Darul Ridzuan. 1hb Ogos 1997.


SEJARAH RINGKAS NUSANTARA

Sebelum kedatangan Islam di Nusantara, penduduk di Asia Tenggara adalah terdiri daripada penganut fahaman Buddha Syinrawath ( Buddha Puja Dewa ). Pada ketika itu penganut-penganutnya sudah pun sedia mengamalkan perkara-perkara luar biasa yang menyalahi kebiasaan iaitu " Mencarik adat " yang lahir hasil daripada pemujaan ‘ dewa-dewi’, jampi serapah atau yang seumpamanya.

Keadaan ini berlaku adalah hasil daripada pertolongan jembalang-jembalang yang terdiri daripada Jin samada dengan menjelma ke dalam diri pemujanya ( Tanasukh Aruah ), Istidraj, Sihir atau silap mata. Semua amalan ini amat kuat pengaruhnya dalam kehidupan seharian mereka pada waktu itu. Mereka mengabdikan diri hanya kepada Dewa-Dewi semata-mata. Dalam konteks ini pegangan fahaman beragama adalah bersumberkan daripada Rahib-rahib yang dikatakan mendapat ilham dari tuhan dewa-dewi samada Dewa Rama, Dewa Sita, Dewa Siva dan yang seumpamanya.

Ketika Islam tersebar luas di Semenanjung Arab hingga ke Eropah dan juga ke Asia, maka banyaklah mubaligh-mubaligh Islam dari kalangan orang-orang Arab dan bukan Arab yang datang membawa agama Islam ke sebelah Asia Tenggara sebagai pedagang. Dari situ Islam mula bertapak dengan kuatnya di negeri-negeri bawah angin ini.

Gejala isma-isma yang tidak sihat pada waktu itu beransur-ansur hilang kegemilangannya bahkan di sesetengah tempat, umpamanya Acheh isma-isma tersebut telah di benteras sehingga ke akar umbinya. Inilah hasil daripada tarbiah dan didikan mubaligh-mubaligh dan para Daei Islam yang benar-benar alim lagi sufi. Kehadiran mubaligh-mubaligh tersebut seumpama membawa sirna kegemilangan dan kecemerlangan kepada penduduk tempatan sehingga pada satu ketika Acheh mendapat jolokan sebagai Serambi Mekah.

Setelah sekian lama gejala pemujaan jampi serapah hilang, akhirnya ia timbul semula setelah Portugis, Belanda, Spanyol, Perancis, Amerika dan Inggeris berusaha menakluki Asia Tenggara dengan memperkenalkan agama Kristian di samping perdagangan yang menyebabkan orang Islam bangun menentang mereka. Pada suatu ketika Belanda telah membunuh lebih daripada 6,000 Ulama Islam di Tanah Jawa. Pada ketika itu ulama merupakan tokoh pemimpin yang utama dalam semua aktiviti harian bermula dari aspek agama, sosial dan kemasyarakatan, ketenteraan hinggalah kepada perubatan dan sebagainya.

Mereka inilah yang banyak memainkan peranan penting dalam menggerakkan penentangan terhadap penjajahan barat, kerana merekalah yang terlebih dahulu mengenali erti hidup beragama serta beramal dengannya, lebih dahulu merasai bahang campurtangan asing, lebih dahulu menghidu bau najis Mughalazah penjajahan dalam kebudayaan, tipu daya pemerintahan dan tipu daya dalam ketenteraan dan sebagainya ke atas negerinya dan anak-anak bangsanya.

Akibat daripada peristiwa itu, maka saki baki pahlawan Islam yang hilang pedoman telah cuba meneruskan perjuangan menentang Belanda dan Inggeris dengan kekuatan dan keilmuan apa saja yang ada pada mereka asalkan mereka mampu. Dalam keadaan terdesak itu mereka berusaha memperolehi daya kekuatan yang yang luar biasa melalui amalan-amalan cara hulubalang, wirid-wirid, jampi serapah dan yang seumpama dengannya, melalui kaedah biasa dan setengah daripada mereka melalui Uzlah ( bertapa dan riadah ), maka datanglah pula jembalang-jembalang daripada Jin samada Jin Islam atau Jin Kafir yang berhubung dengan mereka, dengan cara Tanasukh Aruah ( penjelmaan ke dalam diri ), istidraj, sihir atau silap mata yang menolong mereka menghasilkan hajat mereka, yang pada sangkaan mereka adalah malaikat-malaikat atau wali-wali atau Nabi Khaidir yang telah datang berhubung dengan mereka.

Sementara itu di Tanah Jawa timbul pula fahaman Wahdatu Ujud yang tidak dapat membezakan di antara Wahdatul Ujud Marhumah ( dalam bab Sufi ) dengan Wahdatul Ujud Mazmumah ( dalam I’tiqad di panggil Hulluliah, Mulhid, Zindik ) sehingga tertegaklah kerajaan yang seumpama itu, iaitu kerajaan Mataram. Fahaman ini adalah hasil daripada pengaruh Syiah. Bermula dari sinilah wujud semula berbagai-bagai rupa bentuk amalan kerohanian, wirid-wirid dan jampi serapah yang menyeleweng dari aqidah syari’at Ubudiah Islamiah yang sebenar ke hadrat Allah seperti yang dibentangkan oleh ulama-ulama terdahulu yang mahir dan ahli pada babnya di dalam kitab-kitab karangan mereka.

Terdapat juga dari golongan ini yang memesongkan amalan-amalan mereka bagi kepentingan diri, dengan tujuan :

1. Langkah mempertahankan diri bagi mendapatkan kemegahan dunia ( hanya kepada bangsa semata-mata )
2. Amalan-amalan kebatinan dalam menuntut kemegahan.
3. Perubatan ( bomoh, tok pawang, tok bidan dan sebagainya )
4. Berlagak jadi tok sufi ( wali ) yang sentiasa mendapat jazbah ketuhanan.

Dari sini merebaklah amalan -amalan karut yang mendapat kekuatan luar biasa daripada bantuan Jin-Jin. Maka ramailah pahlawan-pahlawan Melayu mengambil amalan-amalan ini dengan tujuan untuk mempertahankan diri sendiri dan untuk menewaskan musuh di samping untuk kepentingan masyarakat sekitarnya.

Akhirnya mereka telah lupa kepada ajaran-ajaran agama yang telah disampaikan kepada mereka, lalu mereka lebih mementingkan kekuatan material dan kebendaan semata-mata daripada kepentingan akhirat. Lebih jahat lagi, mereka menjadikan adat resam keturunan ke dalam syariat agama Islam sebagai satu amalan yang dimestikan, walaupun terang-terang amalan itu menyalahi ajaran Islam, samada dari segi Fiqh, Akidah, dan Akhlak.


KEPERCAYAAN ORANG-ORANG MELAYU SEBELUM KEDATANGAN ISLAM

Sebelum kedatangan Islam ke Tanah Melayu, anutan masyarakat Melayu pada ketika itu, boleh di bahagikan kepada tiga kumpulan agama yang terbesar iaitu :-

1. Agama Buddha Puja Dewa
2. Agama Hindu Puja Dewi
3. Amalan orang-orang Asli. ( Animisme )

Orang-orang Asli sangat kuat berpegang kepada berbagai-bagai kaedah pemujaan Jin sehingga Tok-tok Batin orang Asli di ukur akan kehebatan diri mereka, dengan had ukuran panjang rambut di kepala mereka.

Percantuman 3 puak ini samada melalui nikah kahwin atau seumpamanya menghasilkan suatu kemantapan yang kukuh dalam adat resam dan istiadat kebudayaan orang Melayu, di samping membuahkan pelbagai rupa bentuk ilmu, amalan dan kaedah pemujaan dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu perkara yang luar biasa dan mencarik adat, berlumba-lumba untuk menjadi jaguh atau orang yang paling handal di kalangan mereka, untuk bermegah-megah, gagah, orang yang paling berkuasa, orang yang paling di hormati, di segani dan sebagainya. (Lihat carta amalan-amalan Khurafat)

Islam datang ke Asia Tenggara samada melalui Negeri China, Yaman, Parsi atau India dan bertapak kukuh sehingga lebih kurang 200 tahun sahaja. Selepas itu masuklah pula pengaruh agama Kristian melalui penjajahan kuasa-kuasa Barat.

Manakala di dalam masyarakat Islam sendiri pula telah di pengaruhi oleh pengaruh-pengaruh Rafidiah, Kharijiah, Qadariah, Jabariah dan sebagainya sehingga menimbulkan berbagai-bagai kefahaman dan aliran dalam mempraktikan ajaran Islam. Keadaan ini menyebabkan sesetengahnya pula terjerumus kedalam gaung kesesatan berikut :

1. Bida’ah Dholalah yang Karohah dan Bida’ah yang haram dalam Syariat
2. Berada dalam salah satu daripada 72 puak yang sesat lagi menyesatkan dalam bab Aqidah.
3. Berada dalam salah satu daripada 13 puak yang sesat lagi menyesatkan dalam bab Sufi

Daripada pecahan di atas maka wujudlah berbagai-bagai kelompok masyarakat Melayu yang mempunyai fahaman dan amalan masing-masing . Dari situ lahirlah amalan-amalan yang di panggil amalan "Kebatinan ´ atau " Ilmu Hakikat " ( Ilmu Isi ) yang meninggalkan amal syariat sehinggakan sembahyang hanyalah dengan niat sahaja. Puak-puak yang sesat ini dapat di lihat menerusi amalan yang mereka lakukan dalam menunaikan ibadat kepada Allah.

Ringkasnya apa jua amalan yang tidak mengikut garis panduan Al-Quran, Hadis Rasullullah s.a.w, Ijma dan Qias adalah termasuk dalam salah satu daripada fahaman-fahaman yang sesat daripada tiga kelompok besar di atas.


Jenis Amalan Beragama Orang-Orang Melayu Sebelum Islam

Pada dasarnya amalan beragama orang-orang Melayu sebelum kedatangan Islam bolehlah dibahagikan kepada tiga kepercayaan yang besar iaitu :-

1. Orang-orang Melayu yang beragama Buddha Puja Dewa
2. Orang-orang Melayu yang beragama Hindu Puja Dewi
3. Orang-orang Melayu yang berpegang dan beramal dengan amalan orang-orang Asli. (Animisme)

Akibat dari ajaran dan pegangan mereka itu lahir dan wujudlah berbagai-bagai bentuk kebudayaan dan adat resam mengikut jenis agama dan kepercayaan yang mereka anuti. Kedatangan Islam ke Nusantara selepas itu telah berjaya membasmi kepercayaan karut dalam masyarakat Melayu pada ketika itu.

Namun tidak semua masyarakat Melayu yang mahu meninggalkan kepercayaan mereka secara keseluruhan dan sehingga ke hari ini, kita masih dapat melihat betapa amalan Khurafat itu masih tegak dan tetap hidup dalam adat resam dan kebudayaan Melayu terutamanya dalam majlis perkahwinan, kematian, perbomohan dan perbidanan, latihan pertahanan diri dan sebagainya. Di samping itu kepercayaan kepada benda-benda keramat seperti keris, kubur, pokok besar, batu dan sebagainya begitu kuat sehingga dapat di lihat sesetengah orang Melayu yang masih menjaga dan menyimpan dengan baik keris pesaka sejak turun temurun, yang dikatakan sebagai "Penjaga keluarga."

Kepercayaan seperti ini ada hubungannya dengan asal-usul orang Melayu yang kebanyakannya berasal dari Kepulauan Indonesia yang memang terkenal pada suatu masa dahulu dengan adat dan kepercayaan Hindu serta Buddha. Walaupun Islam mula bertapak di Mataram, Majapahit dan seluruh Kepulauan Jawa namum sisa-sisa peninggalan Hindu dan Buddha masih kuat dalam pegangan mereka.

Di Semenanjung Malaysia sendiri terdapat berbagai keturunan seperti Melayu, Bugis, Mendiling, Rawa, Jawa, Banjar, Petani, Siam dan sebagainya dan terdapat juga yang berasal dari keturunan orang-orang Asli. Setelah memeluk Islam mereka telah membawa adat resam masing-masing di dalam agama Islam. Walaupun mereka berbeza dari segi suku keturunannya, namun mereka masih lagi tidak terlepas dari adat resam Hindu dan percampuran dengan adat dan amalan orang Asli.

Amalan-amalan kuno seperti puja tanduk lembu/kerbau, hantaran perkahwinan, sireh junjung, nasi tinggi, kelapa-garam-gula dan sebagainya, lenggang perut, kenduri 40/100 hari selepas kematian, sembelih ayam semasa buka gelanggang latihan pertahanan diri, sangkak/ancak untuk jamu Jin dan sebagainya adalah contoh amalan yang ada hubungan dengan pengaruh Hindu dalam adat resam orang-orang Melayu.

Begitu juga adat resam, tingkah laku orang-orang asli sebelum Islam di ambil sebagai adat resam atau sebagai cara beragama yang mesti didahulukan, di tokok tambah lagi dengan redha dan lahapnya kita menerima membabi buta pengaruh kebudayaan penjajah yang memang merupakan suatu perancangan jangka panjang Yahudi dan Kristian khasnya untuk membunuh keperibadian muslim orang-orang Melayu yang berpegang teguh dengan agama Islam.

Sehingga kini amalan-amalan tersebut masih lagi hidup subur, walaupun telah berkali-kali seruan dakwah sampai kepada mereka supaya meninggalkan amalan tersebut, namun bagi sesetengah daripada mereka itu telah beranggapan bahawa adat-adat tersebut seolah-olah sebahagian daripada ajaran Islam yang mereka anuti. Maka dengan sebab itulah mereka telah mencampuradukkan antara ajaran Islam yang suci ini dengan adat resam yang karut lagi menyesatkan itu, yang semata-mata mengikut khayalan, kebijaksanaan pemikiran dan tahsinul ‘aqli mereka semata-mata sahaja.. Perkara Luar Biasa Yang Mencarik Adat

Allah telah menganugerahkan kepada manusia khusus dan awam 8 perkara luar biasa yang mencarit adat yang boleh berlaku ke atas manusia. Perkara luar biasa itu bolehlah dibahagikan kepada 2 bahagian iaitu, 4 perkara yang di puji dan 4 perkara yang di keji dan menyalahi ajaran Islam. Ramai daripada kalangan orang Islam sendiri yang terkeliru tentang konsep dan perbezaan perkara-perkara tersebut, kadang-kala masyarakat tidak dapat membezakan yang mana baik dan yang mana mesti dijauhi. Bagi menjelaskan kekeliruan itu maka diperturunkan serba ringkas tentang perkara-perkara tersebut, agar pembaca semua dapat membuat penilaian dengan sebaik-baiknya.


Empat Perkara Yang Di Puji

1. Irhas.

Irhas ialah perkara luar biasa yang di anugerahkan oleh Allah kepada Nabi-Nabi dan rasul-rasul semasa baginda masih kecil. Contohnya seperti Nabi Isa boleh bercakap semasa baginda masih dalam buaian. Perkara ini tidak menjadi kekeliruan kerana Nabi dan rasul telah tiada pada masa sekarang.

2. Mukjizat.

Mukjizat ialah suatu perkara luar biasa yang dikurniakan oleh Allah hanya kepada Nabi-Nabi dan rasulnya sahaja bagi melancarkan usaha rasul-rasul tersebut menyampaikan dakwah dan risalah Allah. Contohnya seperti Mukjizat Nabi Sulaiman yang boleh memahami bahasa semua binatang.

3. Karamah.

Karamah ialah suatu perkara luar biasa yang Allah kurniakan kepada orang-orang mukmin yang berakhlak rasul dan benar-benar berpegang dengan ajaran Islam zahir dan batin. Hal ini adalah perkara biasa bagi Mereka. Karamah merupakan suatu kemuliaan yang Allah kurniakan kepada diri zahir dan batin hamba-hambanya yang arif tentang Allah ( Arifbillah ) .Mereka ini adalah merupakan orang-orang yang alim dan sentiasa beramal soleh. Mereka mahir sekurang-kurangnya tentang ilmu fardhu Ain, Usuluddin, Fekah dan tasauf serta mereka sentiasa beramal dengannya pada setiap masa dan kelakuan. Ikatan diri mereka sentiasa dengan Allah tanpa dapat dipengaruhi oleh alam sekeliling. Mereka dimuliakan oleh ahli di langit dan diperhinakan oleh kebanyakan ahli di bumi.

4. Maunah.

Maunah ialah perkara luar biasa yang Allah kurniakan kepada orang mukmin awam yang soleh, yang apabila di timpa sesuatu musibah atau hal ke atas dirinya, mereka terus melipat gandakan pergantungan dan keimanan kepada Allah serta memantapkanya melalui berbagai-bagai wirid, jampi dan doa serta amalan-amalan sunat yang lain.
Maunah ini merupakan satu kemuliaan yang Allah kurniakan kepada diri zahir dan batin hamba-hambanya yang soleh. Mereka arif tentang ilmu fardhu Ain, Usuluddin, Fekah dan tasauf tetapi kemampuan beramal mereka adalah terhad. Apabila berlaku sesuatu hal ke atas diri mereka samada mutlak dari Allah atau yang bersangkut paut dengan manusia, mereka terus melipatgandakan pergantungan diri dan keimanan kepada Allah serta memantapkan lagi dengan berbagai-bagai wirid, jampi, doa dan segala amalan sunat. Mereka tidak merasa sedih atau kecewa sekiranya permintaan mereka tidak ditunaikan oleh Allah.


Empat Perkara Yang Di Keji

Perkara luar biasa yang di keji oleh Allah ialah perkara luar biasa yang berlaku ke atas orang biasa melalui pertolongan selain daripada Allah. Contohnya melalui pertolongan khadam-khadam yang terdiri daripada Jin dan Syaitan dan sebagainya. Perkara luar biasa jenis ini mestilah di jauhi oleh setiap orang Islam kerana ianya sesat dan menyesatkan. Perkara-perkara tersebut ialah :-

1. Istidraj

Istidraj ialah perkara luar biasa yang Allah kurniakan kepada mereka yang berpura-pura beramal dengan amalan soleh, walaupun diri mereka mahir dengan fardhu ain, Usuluddin, fekah dan tasauf. Mereka berbangga dengan perkara luar biasa yang berlaku ke atas diri mereka sedangkan mereka mengetahui punca sebenar datangnya perkara luar biasa tersebut. Lazimnya golongan ini terikat dengan perjanjian serta mewujudkan pantang-larang yang selari dengan hukum syarak. Ini kerana khadam-khadam mereka adalah terdiri daripada golongan Jin Islam samada yang soleh, fasik atau terdiri daripada Jin yang kafir.

Setiap amalan wirid, jampi dan doa itu ada penjaganya (Khadam). Orang yang beramal dengan kaedah ini kebiasaannya mempunyai suatu perasaan tidak baik yang telah tersemat dalam diri mereka. Antara matlamat mereka ialah :-

a) Ingin di puja.
b) Ingin dikunjungi oleh orang ramai
c) Cinta kepada pangkat dan kebesaran
d) Ingin mendapatkan harta dan kuasa

Golongan khadam ayat dari golongan puak rohani alam rendah memang dijadikan Allah untuk menyukakan golongan yang seumpama itu dengan beberapa perkara luar biasa. Mereka pada zahirnya kelihatan seperti orang yang beriman dan sentiasa menjaga syariat Islam serta berakhlak Rasul tetapi sebenarnya mereka beramal dengan perkara-perkara kufur dan telah terjun ke lembah kekufuran, samada mereka sedari atau tidak.

Punca kesesatan golongan ini ialah apabila rohani-rohani alam yang rendah mengunjungi mereka dalam tidur ataupun semasa jaga, dengan rupa atas nama-nama orang-orang soleh samada yang masih hidup ataupun yang telah mati atau mereka membuat Tajalli ketuhanan. Lazimnya mereka dibebankan dengan beberapa syarat yang menepati hukum syarak untuk diamalkan sebagai syarat perjanjian persahabatan dalam semua kelakuan melalui lidah, anggota dan hati, di semua tempat, waktu dan masa. Maka bermula di saat itu diri mereka berada di dalam Syirik Uluhiyyah dan segala rupa bentuk amalan syariatnya tidak ada nilai di sisi Allah.

Mereka sebenarnya mengetahui dari mana datangnya zahir perkara luar biasa pada perkataan, perbuatan dan kasad hati, tetapi mereka enggan meninggalkan amalan tersebut kerana mereka ingin menjadi jaguh dalam bidang perubatan dengan mengadakan beberapa keajaiban dari berbagai-bagai jenis ubatan, kaedah perubatan dan sebagainya. Kadang-kadang melalui langkah mempertahankan diri. Mereka juga terjebak dalam permainan tunjuk kuat kebatinan supaya mereka di anggap orang yang paling makbul doanya atau paling keramat. Jika dia seorang ulama, maka dia inginkan supaya di kunjungi, di puja dan di hormati sebagai seorang Ahlillah secara mutlak, sedangkan dalam masa yag sama dia akan terasa hina dan hilang kewibawaan sebagai ulama, jika tiada pada dirinya, nyata beberapa perkara yang luar biasa.

2. Sihir.

Sihir ialah perkara luar biasa yang Allah kurniakan kepada orang-rang Islam yang durhaka (‘asi ) yang tidak faham aqidah, syariat dan ubudiah serta tidak beramal dengannya dan orang-orang yang fasik. Sihir juga diberikan oleh Allah kepada pendita-pendita bukan Islam samada Yahudi, Buddha, Nasrani, Majusi dan yang seumpama dengannya. Sihir ini terjadi melalui pertolongan daripada rohani Jin Islam yang fasik dan Jin-Jin yang kafir melalui perjanjian tertentu. Kebiasaannya golongan ini terikat dengan perjanjian dan mengadakan jamuan yang harus dan haram di sisi Syarak. Mereka mendapat perkara yang luar biasa ini adalah melalui pertolongan kumpulan Jin Islam yang fasik dan daripada Jin yang kafir.

Golongan orang Islam yang mendapat perkara luar biasa melalui kaedah ini selalunya sentiasa bergelumang dengan kejahatan dalam semua hal. Golongan ini sebenarnya Mulhid dan Zindik dalam bab aqidah. Selalunya mereka akan mengadakan berbagai cara atau upacara yang berselindung di sebalik ajaran Islam. Antara mereka yang termasuk dalam golongan ini ialah :-

a) Kumpulan Hassan Anak Harimau
b) Wali Suci
c) Budi (Buddha) Suci
d) Batin Sakti
e) Hakikat Insan
f) Pati Geni
g) Fahaman Wahdatul Ujud dalam I’itiqad
h) Baginda Mukhtar
i) Lain-lain kumpulan yang tumbuh bagaikan cendawan di negara ini.

3. Silap Mata.

Silap Mata adalah perkara luar biasa yang Allah kurniakan kepada orang-orang Islam yang fasik dan juga kepada orang-orang kafir, melalui pertolongan daripada Jin kafir. Oleh itu mereka juga terikat dengan perjanjian dan membuat perkara-perkara yang diharamkan oleh hukum syarak.

4. Sya’wazah.

Sya’wazah ialah perkara yang di kurniakan oleh Allah, yang berlawanan sama sekali daripada kehendak asal. Kebiasaannya perkara ini Allah berikan kepada golongan yang angkuh daripada orang-orang kafir. Misalnya apabila mereka meminta sesuatu yang baik, tetapi Allah kurniakan dengan sesuatu kejahatan yang berlipat ganda.



BALA TENTERA ALLAH

Allah mempunyai bala tenteraNya yang tersendiri yang terdiri daripada sekelian makhluknya samada daripada manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang di lautan, daratan dan yang seumpama dengannya seperti angin, api dan segala carkawala di angkasa raya. Bala tentera Allah tersebut terbahagi kepada beberapa kumpulan yang akan diperintahkan oleh Allah untuk membantu manusia apabila dikehendakiNya.

Antara bala tentera Allah tersebut adalah terdiri daripada :-

A. Bala Tentera alam atas yang terdiri daripada seluruh malaikat alam tinggi.

Bala tentera ini apabila diperintahkan oleh Allah untuk menolong para nabi dan rasul-rasul, maka pertolongan yang menzahirkan perkara yang luar biasa itu akan dinamakan sebagai Mukjizat. Manakala pertolongan yang menzahirkan perkara luar biasa yang terjadi kepada nabi dan rasul semasa kecil pula, dinamakan sebagai Irsad.

Bentuk pertolongan tersebut samada melalui lidah, anggota, kasad hati atau melalui ketiga-tiga bentuk tersebut secara sekali gus. Jika mereka menjadi penolong kepada ulama-ulama dan orang-orang soleh yang arif billah ( iman, syariat dan akhlak mereka menepati sebagaimana iman, syariat rasul zahir dan batin ) maka pertolongan tersebut dinamakan sebagai Keramat. Perkara luar biasa yang berlaku kepada ulama-ulama dan orang-orang saleh yang apabila, mereka di timpa bala dan musibah, maka mereka melipat gandakan ubudiah dan pergantungan kepada Allah dengan penuh ikhlas diri dan amalan mereka, maka perkara luar biasa tersebut dinamakan sebagai Maunah.

B. Bala tentera Allah Alam rendah

Bala tentera Allah alam rendah pula adalah terdiri daripada sekelian rohani jin-jin Islam yang soleh dan jin-jin Islam yang fasik dan kafir serta semua manusia dan makhluk Allah yang lain yang menghuni alam ini, seperti haiwan, tumbuhan, angin, batu dan sebagainya.

Manakala rohani Jin Islam yang alim dan soleh daripada alam rendah yang apabila diperintahlan oleh Allah datang memberi pertolongan kepada manusia yang alim dan soleh yang wujud dalam diri mereka itu sifat-sifat mazmumah, maka pertolongan tersebut dinamakan sebagai Istidraj. Perkara luar biasa tersebut dinamakan sebagai istidraj kerana rohani jin Islam yang soleh tersebut akan mengenakan beberapa syarat yang menepati hukum syarak sebelum memberi pertolongan tersebut.

Jika rohani jin Islam yang fasik atau jin kafir diarah memberi pertolongan kepada manusia Islam yang fasik atau manusia yang pura-pura beriman atau yang seumpama dengannya pula dinamakan sebagai sihir atau silap mata, kerana mereka mengenakan beberapa syarat yang harus pada hukum syarak.

Jika jin -jin yang kafir atau anak keturunannya diperintahkan memberi pertolongan kepada manusia yang kafir yang terdiri daripada rahib-rahib, padri-padri, sami-sami atau yang seumpama dengannya, maka pertolongan tersebut dinamakan sebagai silap mata atau sihir peringkat tinggi, kerana mereka mengenakan syarat-syarat yang haram pada hukum syarak.


JIN

Makna Jin.

Jin adalah satu nama jenis dan dalam bahasa Inggeris di sebut Ginie - perkataan tunggalnya " Jinny " yang bermaksud yang tersembunyi, yang tertutup atau yang gelap pekat.
Dalam Al-Quran terdapat banyak ayat-ayat yang menceritakan tentang Jin. Antaranya :-

1. Surah Al-Hijr ayat 26 - 27 :

Yang bermaksud : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat yang kering kontang yang berasal dari lumpur hitam yang di beri bentuk dan Kami telah ciptakan Jin sebelum di ciptakan manusia daripada api yang sangat panas.

2. Surah Ar-Rahman ayat 15 :

Yang bermaksud : Dia ( Allah ) menciptakan Jann ( Jin ) dari nyalaan api ( Pucuk api yang menyala-nyala atau Maarij )

3. Surah Al-‘Araf ayat 12 :

Yang bermaksud : " Engkau ciptakan aku ( kata Iblis ) dari api sedangkan ciptakan dia ( Adam ) dari tanah.

4. Dari Hadis Nabi s.a.w yang telah diriwayatkan oleh Muslim r.a

Maksudnya : " Malaikat diciptakan dari cahaya, Jaan diciptakan dari lidah api sedangkan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan kepada kamu ( tanah ).


Asal Kejadian Jin

Keterangan "Al-Maarij "

Maarij bermaksud nyalaan api yang sangat kuat dan sangat panas bahangnya atau " Al-Lahab " iaitu jilatan api yang sudah bercampur antara satu sama lain iaitu merah, hitam, kuning dan biru. Sesetengah ulama pula mengatakan " Al-Maarij " itu ialah api yang sangat terang yang memiliki suhu yang amat tinggi sehingga bercampur antara merah, hitam, kuning dan biru.

Sesetengah pendapat pula mengatakan Al-Maarij itu ialah api yang bercampur warnanya dan sama maknanya dengan " As-Samuun " iaitu api yang tidak berasap tetapi sangat tinggi suhu panasnya. Angin samuun yang telah sebati dengan Al-Maarij itulah Allah jadikan Jaan.

Menurut suatu Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud pula menyatakan bahawa angin Samuun yang dijadikan Jaan itu hanyalah satu bahagian daripada tujuh puluh bahagian angin Samuun yang sangat panas itu.

Dari api yang amat panas inilah Allah telah menciptakan Jin, iaitu dari sel atau atom atau daripada nukleas-nukleas api. Kemudian Allah masukkan roh atau nyawa padanya, maka jadilah ia hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah. Jin juga di beri izin oleh Allah menzahirkan berbagai-bagai bentuk dan rupa yang disukai dan dikehendakinya kecuali rupa Rasulullah s.a.w mengikut tahap dan kemampuan masing-masing.

Jin juga diperintahkan oleh Allah menerima syariat Islam sepertimana yang diperintahkan oleh Allah kepada manusia. Rupa bentuk Jin yang asal selepas di cipta dan ditiupkan roh itu, hanya Allah dan Rasulnya sahaja yang mengetahuinya. Menurut sesetengah ulama rupa, tabiat, kelakuan dan perangai Jin adalah 90 peratus mirip kepada manusia.

Asal kejadian manusia ialah campuran daripada Jisim Kathif iaitu tanah dan air, Jisim Syafaf iaitu campuran api dan angin dan Nurani, iaitu roh, akal, nafsu dan hati yang dinamakan "Latifatur-Rabbaniah " sesuai dengan manusia sebagai sebaik-baik kejadian yang diciptakan Allah dan sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini. Manakala kejadian Jin pula ialah campuran Jisim Syafaf iaitu campuran api dan angin dan Nurani iaitu roh, akal, nafsu dan hati yang sesuai dan sepadan dengan kejadian Jin.

Manakala mahkluk-makluk lain pula Allah jadikan daripada salah satu unsur tersebut, contohnya, binatang yang dijadikan daripada campuran Jisim Ksayif dan Jisim Syafaf sahaja. Batu dan tumbuh-tumbuhan pula dijadikan daripada Jisim Kasyif semata-mata. Manakala Malaikat pula dijadikan daripada Nurani semata-mata.


Cara pembiakan Jin

Manusia memerlukan masa mengandung selama sembilan bulan untuk melahirkan zuriat dan anak manusia juga memerlukan masa yang lama untuk matang dan menjadi baligh.

Berbeza dengan Jin di mana, apabila di sentuh alat kelamin lelaki dengan alat kelamin perempuan, maka Jin perempuan akan terus mengandung dan beranak dan anak Jin yang baru lahir itu terus mukallaf. Begitulah keadaannya sehingga ke hari kiamat.

Iblis pula apabila menyentuh paha kanan dengan paha kiri akan mengeluarkan 33 biji telor. Dalam setiap biji telor itu ada 33 pasang benihnya. Tiap-tiap pasang benih itu apabila menyentuh paha kanan dengan paha kiri akan keluar seperti yang terdahulu. Begitulah proses pembiakan Jin dan Iblis sehinggalah ke hari kiamat.

Bunian atau lebih masyhur di kalangan orang-orang Melayu dengan panggilan orang Ghaib pula ialah hasil campuran lelaki atau perempuan Jin dengan lelaki atau perempuan dari kalangan manusia. Anak yang terhasil daripada percampuran itu dikenali dengan nama Bunian. Perangai dan tingkah laku serta rupa bentuknya orang Bunian ini dalam beberapa perkara mengikut manusia dan dalam beberapa perkara pula mengikut Jin.

Jika asal usul datuk manusia ialah Nabi Adam, maka asal usul datuk Jin pula ialah " Jaan " yang asalnya adalah beriman kepada Allah dan melahirkan keturunan yang beriman. Selepas itu terdapat pula dari keturunan Jaan yang kufur dan melahirkan pula keturunan yang kufur. Anak cucu Jaan yang asal beriman itu ada yang kekal dalam iman dan ada pula yang kufur dan ada pula yang kembali beriman kepada Allah.


Agama puak-puak Jin

Jin Juga seperti manusia, iaitu ada yang baik, ada yang jahat, ada yang soleh, ada yang tidak soleh, ada yang alim lagi mukmim, ada ada yang kufur, ada yang murtad, fasik dan zalim, ada yang masuk syurga dan ada yang dihumbankan oleh Allah ke dalam neraka di hari akhirat kelak.

Majoriti puak-puak Jin terdiri daripada golongan Jin kafir. Golongan Jin kafir ini kebanyakanya beragama Yahudi, Kristian, Komunis dan sangat sedikit daripada mereka yang beragama Buddha dan Majusi. Terdapat juga golongan Jin yang tidak beragama. Golongan Jin yang memeluk Islam hanyalah sedikit bilangannya dan terdiri daripada golongan manoriti jika di bandingkan dengan keseluruhan bilangan Jin.

Seperti juga manusia biasa, Jin juga berada dalam tingkat-tingkat iman, ilmu dan amalan yang tertentu berdasarkan kepada keimanan dan amalan mereka kepada Allah. Antaranya ada Jin Islam yang bertaraf awam sahaja , Jin Islam yang di tingkat iman Khawas dan Jin Islam yang berada ditingkat iman yang Khawasil-Khawas.

Walaupun Jin Islam yang paling tinggi imannya dan paling soleh amalannya serta paling luas serta banyak ilmunya , tetapi masih ada pada diri mereka sifat-sifat mazmumah seperti takbur, riak, ujub dan sebagainya, tetapi mereka mudah menerima teguran dan pengajaran.

Mungkin inilah yang sering diperkatakan bahawa " sebaik-baik Jin itu ialah sejahat-jahat manusia yang fasik. " Tetapi yang berbezanya manusia yang paling jahat susah menerima pengajaran dan teguran yang baik.

Golongan Jin Islam yang awam dan Jin kafir suka merasuk manusia yang awam dengan berbagai-bagai cara, kerana pada pandangan mereka manusia-manusia yang awam itu bukanlah manusia sebenarnya, sebaliknya adalah rupa seekor binatang. Manusia yang Khawas dan Khawasil-Khawas tidak dapat di rasuk oleh Jin, bahkan Jin pula akan datang kepada mereka untuk bersahabat.



Rupa Bentuk Jin

Pada asasnya rupa bentuk Jin tidaklah banyak berbeza daripada rupa bentuk manusia, iaitu mereka mempunyai jantina, mempunyai hidung mata, tangan, kaki, telinga dan sebagainya, sepertimana yang di miliki oleh manusia. Pada dasarnya 80 hingga ke 90 peratus Jin menyerupai manusia.

Cuma yang berbezanya fizikal Jin adalah lebih kecil dan halus daripada manusia. Bentuk tubuh mereka itu ada yang pendek, ada yang terlalu tinggi dan ada bermacam-macam warna, iaitu putih, merah biru, hitam dan sebagainya. Jin yang kekal dalam keadaan kafir dan Jin Islam yang fasik itu mempunyai rupa yang huduh dan menakutkan. Manakala Jin Islam yang soleh pula mempunyai rupa paras yang elok.

Menurut sesetengah pendapat tinggi Jin yang sebenarnya adalah kira-kira tiga hasta sahaja. Pengetahuan mereka lebih luas dan umurnya tersangat panjang dan ada yang beribu tahun umurnya. Kecepatan Jin bergerak adalah melebihi gerak cahaya dalam satu saat. Memandangkan Jin adalah terdiri daripada makluk yang seni dan tersembunyi, tidak zahir seprti manusia dan tidak sepenuhnya ghaib seperti Malaikat, maka ruang yang kecil pun boleh di duduki oleh berjuta-juta Jin dan ianya juga boleh memasuki dan menghuni tubuh badan manusia.

Jumlah Jin terlalu ramai sehingga menurut sesetengah pendapat bilangannya ialah jumlah semua manusia daripada Nabi Adam hingga ke hari kiamat di darab dengan haiwan-haiwan, di darab dengan batu-batu, di darab dengan pasir-pasir dan semua tumbuh-tumbuhan. Itu pun baru satu persepuluh daripada jumlah keseluruhan Jin.

Manakala jumlah keseluruhan Jin ialah satu persepuluh daripada jumlah keseluruhan Malaikat. Jumlah keseluruhan Malaikat hanya Allah dan Rasulnya sahaja yang lebih mengetahuinya.

Alam kediaman Jin ialah di lautan, daratan, di udara dan di Alam Mithal iaitu suatu alam di antara alam manusia dan alam malaikat. Jika di berikan oleh Allah kepada kita melihat Jin, sudah tentulah kita akan melihat jarum yang dijatuhkan dari atas tidak akan jatuh ke bumi , tetapi hanya jatuh di atas belakang Jin, disebabkan terlalu banyaknya jumlah mereka.

Sebab itulah orang-orang tua kita selalu berpesan supaya anak-anak segera balik ke rumah apabila telah tiba waktu maghrib dan pintu serta tingkap rumah mesti di tutup, supaya tidak dimasuki oleh Syaitan dan Iblis.

Sebagaimana sebuah Hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari daripada Rasulullah s.a.w yang bermaksud :

" Apabila kamu menghadapi malam atau kamu telah berada di sebahagian malam maka tahanlah anak-anak mu kerana sesungguhnya syaitan berkeliaran ketika itu dan apabila berlalu sesuatu ketika malam maka tahanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allah, padamkan lampu-lampu mu serta sebutlah nama Allah, ikatlah minuman mu serta sebutlah nama Allah dan tutuplah sisa makanan mu serta sebutlah nama Allah ( ketika menutupnya ) "

Hadis di atas bermaksud bahawa Jin dan Syaitan akan tidur di waktu siang dalam cahaya dan sinar sehingga menjelang petang, di mana pada waktu itu mereka berkeliaran mencari rezeki dan makanan, baik lelaki maupun perempuan, samada yang dewasa atau kanak-kanak.


Melihat Jin

Pada prinsipnya Jin tidak boleh di lihat, di sentuh dan di dengar oleh manusia dalam bentuk yang asal sebagaimana ianya diciptakan, kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu, Jin boleh di lihat dalam rupa bentuk yang diingininya.

Jin juga boleh di lihat oleh manusia dalam keadaan sihir atau ketika meminum air sihir atau melalui kemahuan Jin itu sendiri untuk memperlihatkan dirinya kepada manusia.

Di dunia semua Jin boleh melihat manusia manakala manusia yang Khawas dan Khawasil-Khawas sahaja yang boleh melihat Jin selain daripada para Nabi dan Rasul. Manakala di akhirat pula semua manusia mukmin yang ahli syurga boleh melihat Jin manakala Jin yang Khawas dan Khawasil-Khawas sahaja yang boleh melihat manusia.

Antara kelebihan Jin yang telah diberikan oleh Allah ialah kemampuannya untuk mengubah dirinya dalam berbagai bentuk dan rupa. Contohnya dalam peperangan Badar, Iblis telah menampakkan dirinya dalam bentuk seorang lelaki dari Bani Mudlij dan Syaitan pula dalam rupa Suraqah bin Malik yang datang membantu tentera musrikin memerangi tentera Islam. ( Iblis dan Syaitan adalah juga merupakan sebahagian daripada golongan Jin ).

Dalam Sahih Bukhari juga ada meriwayatkan bahawa adanya Jin yang menampakkan dirinya dalam bentuk seekor ular dan membunuh seorang pemuda yang cuba membunuh ular tersebut. Di samping itu Jin juga boleh menampakkan dirinya dalam rupa bentuk haiwan yang lain seperti rupa bentuk kucing, anjing dan sebagainya.


Kumpulan-kumpulan Jin

Jin juga seperti manusia yang inginkan keturunan dan hidup berpuak-puak. Puak dan kumpulan Jin terlalu banyak dan bercakap dalam berbagai-bagai loghat dan bahasa. Ada sesetengah ulama membahagikan Jin kepada beberapa kumpulan, antaranya kumpulan yang menunggu kubur, kumpulan yang menunggu gua, kumpulan yang menunggu mayat manusia, kumpulan yang menunggu hutan rimba, kumpulan yang menunggu bukit bukau, kumpulan yang menunggu air mata air, kumpulan yang menunggu tasik, kolam, teluk, kuala, pulau dan sebagainya.

Jenis-jenis Jin

Sama seperti manusia Jin juga terdiri dari pada berbagai jenis atau bangsa, antara yang tersohor ialah :-

1. Iblis - Bapa dan pujaan kepada semua jenis Jin, Iblis dan Syaitan..
2. Asy-Syaitan - Syaitan-syaitan
3. Al-Maraddah - Peragu-peragu ( pewas-was )
4. Al-Afrit - Penipu-penipu
5. Al-A'waan - Pelayan-pelayan
6. Al-Tayyaaruun - Penerbang-penerbang
7. Al-Ghawwaasuun - Penyelam-penyelam
8. At-Tawaabi - Pengikut-pengikut ( pengekor )
9. Al-Qurana - Pengawan-pengawan
10. Al-Ummaar - Pemakmur.


Gelaran-gelaran Jin dalam istilah orang-orang Melayu

Jin menurut orang-orang Melayu mempunyai beberapa nama dan gelaran menurut perwatakkan dan rupa bentuk penjelmaan mereka. Kebanyakan nama Jin-Jin itu dimulai dengan hantu. Hantu-hantu tersebut sebenarnya adalah terdiri daripada golongan Jin, cuma di kalangan orang Melayu, menganggap hantu itu adalah makhluk yang berbeza daripada Jin.

Antara Jin-Jin yang popular di kalangan orang-orang Melayu ialah :-

a. Hantu Raya j. Hantu Pontianak s. Hantu Polong b. Hantu Toyol k. Hantu Langsuir t. Hantu Penanggal c. Hantu Pelesit l. Hantu Air u. Hantu Bukit d. Hantu Kubur m. Hantu Pari v. Hantu Punjut e. Hantu Jerangkung n. Hantu Laut w. Hantu Bawah Tangga f. Hantu Galah o. Jin Tanah x. Hantu Kum-Kum g. Hantu Bungkus p. Hantu Pocong y. Hantu mati di bunuh h. Hantu Bidai q. Hantu pari-pari z. Hantu Kopek ( Tetek ) i. Harimau Jadian r. Jembalang Tanah zz. Hantu Tengelong.


Kerajaan-kerajaan Jin

Jin juga mempunyai pemimpin dan kerajaannya yang tersendiri. Antara Raja Jin alam bawah yang kafir ialah seperti Mazhab, Marrah, Ahmar, Burkhan, Syamhurash, Zubai’ah dan Maimon. Empat raja Jin Ifrit ( Jin yang paling jahat ) yang mempunyai kerajaan yang besar yang menjadi menteri kepada Nabi Allah Sulaiman a.s ialah Thamrith, Munaliq, Hadlabaajin dan Shughal.

Manakala Raja Jin Alam atas yang Islam pula ialah Rukiyaail, Jibriyaail, Samsamaail, Mikiyaail, Sarifiyaail, ‘Ainyaail dan Kasfiyaail. Raja Jin yang mengusai kesemua Jin tersebut bernama THOTHAMGHI YAM YA LI.. Manakala Malaikat yang mengawal kesemua Jin-Jin di atas bernama Maithotorun yang bergelar QUTBUL JALALAH.

Anak-anak Iblis juga mempunyai kerajaan yang besar antaranya :-

1. Thubar Merasuk manusia yang di timpa musibah dan bala
2. Daasim Merasuk manusia untuk menceraikan ikatan silatulrahim, rumah tangga, keluarga, sahabat handai, jemaah dan sebagainya.
3. Al-‘Awar Merasuk manusia supaya meruntuhkan akhlak, berzina, minum arak, liwat, berjudi dan sebagainya
4. Zalanbuur Merasuk manusia dengan api permusuhan dan pembunuhan.